Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.700 per dolar AS mulai memberikan tekanan serius terhadap beban subsidi energi pemerintah. Lonjakan harga minyak dunia yang berada di atas 100 dolar AS per barel memperparah situasi fiskal ini, seperti dilaporkan dalam pemberitaan Suara.
Kombinasi kurs rupiah yang melemah dan harga minyak tinggi otomatis membuat biaya impor energi melonjak tajam. Pemerintah harus menggelontorkan dana subsidi yang lebih besar agar harga Pertalite dan Solar tetap bertahan di level saat ini.
Impor BBM dan minyak mentah dibayar menggunakan dolar AS di tengah tingginya konsumsi harian masyarakat. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat volume cadangan sejumlah jenis bahan bakar kini berada dalam tingkat yang terbatas.
Stok Pertalite per 18 Mei 2026 berada di level 1,37 juta kiloliter (KL) atau hanya cukup untuk 16 hari. Sementara itu, ketahanan stok Solar tercatat berada di level 16,4 hari dengan volume total 1,57 juta KL.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menegaskan bahwa pasokan energi secara nasional sebenarnya masih berada dalam kategori aman.
"Sebagai laporan, stok BBM nasional per tanggal 18 hari kemarin bahwasanya kita sangat aman. Jadi Pertalite pada posisi 16 hari," ujar Wahyudi dalam RDP bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (19/5/2026).
Di sisi lain, kelompok bahan bakar nonsubsidi memiliki ketahanan cadangan yang relatif lebih panjang. Stok Pertamax tercatat mencapai 561 ribu KL dengan ketahanan 27,8 hari, sedangkan Pertamax Turbo memiliki ketahanan stok hingga 61,7 hari.
Untuk kebutuhan penerbangan, pasokan avtur nasional tercatat sebesar 385 ribu KL dengan daya tahan 26,6 hari. Sebaliknya, minyak tanah atau kerosin menjadi varian dengan ketahanan paling rendah, yaitu hanya 11,8 hari.
Kebijakan Harga dan Skenario Mitigasi
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa pemerintah berkomitmen tidak akan menaikkan harga BBM subsidi dalam waktu dekat. Kebijakan ini diambil meskipun kondisi pasar minyak global dan kurs rupiah terus bergejolak.
"Tidak akan naik Insyaallah, ya, doain ya. Tidak akan kita naikkan subsidi BBM," kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta.
Pemerintah diklaim telah menyusun langkah mitigasi jika harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) melampaui 100 dolar AS per barel. Langkah antisipasi ini dirancang sesuai dengan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Saat ini, pemerintah menilai belum ada urgensi untuk mengubah harga jual eceran di SPBU. Hal ini dikarenakan rata-rata ICP Indonesia saat ini masih tertahan di kisaran 80-81 dolar AS per barel.
Tekanan eksternal terhadap APBN diproyeksikan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Pada penutupan pasar hari Selasa (19/5/2026), mata uang rupiah terpuruk ke posisi Rp17.716 per dolar AS. Pada momentum yang sama, komoditas minyak mentah jenis Brent bertengger di harga 109,15 dolar AS per barel dan WTI AS menyentuh 107,28 dolar AS per barel.