Mitos Investasi Sell in May and Go Away

Mitos Investasi Sell in May and Go Away
Foto: Ilustrasi Mitos Investasi Sell in May and Go Away.

KOMPAS.com-Pepatah lama di pasar saham berbunyi ÔÇ£sell in May and go away (jual di bulan Mei dan pergi)ÔÇØ.

Strategi ini menyarankan investor melepas saham pada Mei, lalu kembali masuk pada November.

Tujuannya menghindari periode kinerja lemah saat musim panas di belahan bumi utara.

Memasuki Mei tahun ini, pandangan tersebut mulai dipertanyakan. Kondisi pasar tidak sepenuhnya mengikuti pola lama.

Dilaporkan CNBC, kinerja pasar pada April memberi sinyal berbeda. Investor yang keluar terlalu cepat berisiko kehilangan peluang.

Indeks STOXX 600 di Eropa dan DAX Jerman mencatat bulan terbaik sejak Januari tahun lalu. FTSE MIB Italia melonjak hampir 9 persen, menjadi performa terkuat sejak Januari 2023.

Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat kinerja bulanan terbaik dalam sekitar enam tahun.

Penguatan ini terjadi di tengah ketidakpastian global. Kebijakan Presiden AS Donald Trump ikut memengaruhi sentimen pasar.

Harapan meredanya konflik dengan Iran mendorong optimisme. Ketegangan di Timur Tengah tetap berlangsung.

Data historis tidak sepenuhnya mendukung strategi tersebut. Meja perdagangan JPMorgan mencatat S&P 500 rata-rata naik 1,5 persen pada Mei dan 1,9 persen pada Juni dalam 10 tahun terakhir.

Kenaikan lebih tinggi terjadi pada Juli. Rata-rata mencapai 3,4 persen.

Analisis Deutsche Bank terhadap STOXX 600 menunjukkan hasil serupa. Dalam 25 dari 39 tahun, strategi ÔÇ£jual di bulan MeiÔÇØ memberi hasil lebih rendah dibanding strategi beli dan tahan.

Deutsche Bank menyimpulkan strategi tersebut ÔÇ£tidak menawarkan keunggulan statistikÔÇØ.

Risiko tetap ada. Bank sentral utama memberi sinyal kehati-hatian.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan, ÔÇ£inflasi tetap tinggiÔÇØ. Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde menyebut terus memantau ÔÇ£dampak guncangan pasokan negatifÔÇØ. Bank of England juga memperingatkan skenario inflasi terburuk.

Kondisi ini membuat arah pasar belum jelas.

Musim laporan keuangan juga akan memengaruhi pergerakan pasar. Sejumlah perusahaan besar dijadwalkan merilis kinerja.

Bank Eropa seperti UniCredit, HSBC, dan Commerzbank akan melaporkan hasil. Perusahaan global seperti Shell, Novo Nordisk, BMW, hingga Disney juga masuk jadwal.

Rangkaian laporan ini berpotensi menggerakkan pasar dalam jangka pendek.

Investor kini menghadapi pilihan. Tetap mengikuti strategi lama atau menyesuaikan pendekatan.

Deutsche Bank menilai keputusan tidak sederhana. Strategi ÔÇ£jual di bulan MeiÔÇØ dinilai tidak lebih pasti dibanding peluang acak.

Artikel terkait

Rekomendasi