Keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik bersenjata dengan Iran menguras stok senjata canggih mereka secara signifikan. Seperti dilansir dari Media Indonesia, amunisi penting seperti Rudal Tomahawk, Patriot, hingga Precision Strike Missiles dilaporkan menipis hingga memicu kekhawatiran mendalam di Washington.
Kondisi ini menjebak AS dalam ketergantungan pada satu logam krusial yaitu tungsten untuk memproduksi kembali senjata-senjata tersebut. Namun, rantai pasokan dan produksi tungsten global saat ini didominasi oleh rival utamanya, Tiongkok.
Tungsten menjadi komponen yang tidak tergantikan dalam industri pertahanan global. Komoditas logam ini digunakan secara luas pada jet tempur, bom penghancur bunker (bunker buster), amunisi penembus baju besi, hingga sistem rudal.
Di sisi lain, AS tidak lagi memiliki tambang tungsten komersial yang aktif sejak 2015. Situasi tersebut memaksa pemerintahan Donald Trump untuk mencari sumber alternatif secara agresif guna memutus rantai pasokan dari Beijing.
Salah satu titik terang dalam perburuan mineral kritis ini berada di pegunungan timur Korea Selatan. Tambang Sangdong, yang dimiliki oleh perusahaan AS Almonty Industries, baru saja dibuka kembali pada Maret lalu setelah ditutup selama lebih dari 30 tahun akibat persaingan harga dari Tiongkok.
"Hanya ada sedikit tambang tungsten skala besar di planet ini," ujar Lewis Black, CEO Almonty Industries.
Ia menekankan bahwa tungsten bukan sekadar 'logam perang', tetapi juga 'tulang punggung' sektor teknologi modern, mulai dari semikonduktor hingga baterai ponsel pintar.
Krisis amunisi ini mendatangkan risiko besar jika konflik dengan Tiongkok pecah di masa depan. Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), memperkirakan butuh waktu hingga empat tahun untuk memulihkan stok amunisi AS ke level sebelum perang.
Dominasi Tiongkok dan Kendala Lingkungan
Selama beberapa dekade, Tiongkok mendominasi lebih dari 80% pasokan tungsten global berkat subsidi pemerintah, biaya tenaga kerja rendah, dan regulasi lingkungan yang longgar. Sebaliknya, ekstraksi tungsten dikenal sangat sulit dan menghasilkan limbah berbahaya, sesuatu yang selama ini dihindari oleh industri domestik AS.
"Orang-orang di Amerika tidak ingin melakukan itu (penambangan kotor), sementara Tiongkok sangat bersedia melakukannya dengan biaya rendah," kata Purnawirawan Kolonel Steve Warren, mantan juru bicara Pentagon.
Ketergantungan ini menjadi senjata bagi Beijing di tengah perang dagang. Tahun lalu, Tiongkok memberlakukan kontrol ekspor pada mineral kritis termasuk tungsten, sehingga harga melonjak ke rekor tertinggi.
Strategi Trump Batasi Pengaruh Beijing
Menanggapi ancaman ini, pemerintahan Trump meluncurkan cadangan mineral kritis senilai US$12 miliar pada Februari 2026. Langkah strategis lain meliputi pemberian subsidi finansial untuk proyek pertambangan domestik di Montana.
Selain itu, Washington membentuk blok perdagangan mineral dengan sekutu AS. Langkah ini dibarengi dukungan terhadap investasi senilai US$1,1 miliar untuk fasilitas pemrosesan tungsten di Kazakhstan melalui Cove Capital.
Meski upaya diversifikasi sedang berjalan pesat, Lewis Black memperkirakan bahwa Barat membutuhkan waktu setidaknya satu dekade untuk memberikan dampak signifikan terhadap dominasi Tiongkok. Barat mungkin butuh 20 hingga 30 tahun untuk mencapai kemandirian penuh.
"Pertanyaannya adalah, apa yang akan kita lakukan di masa transisi tersebut?" pungkasnya.