Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada Senin (27/4) bahwa ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri saat ini berada di atas standar nasional.
Kondisi kedaulatan energi domestik tersebut, sebagaimana dilansir dari Detik Finance, mencakup kualitas solar maupun bensin yang tetap terjaga meskipun situasi geopolitik dunia antara Amerika Serikat dan Iran sedang memanas.
"Baik dari sisi BBM produk, baik solar maupun bensin. Dari semua aspek, alhamdulillah semuanya di atas standar minimum nasional. Jadi alhamdulillah sudah dua bulan, hampir dua bulan ketika kejadian, geopolitik di Timur Tengah tentang Selat Hormuz, kita masih stabil," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Bahlil juga memberikan jaminan terhadap keamanan pasokan minyak mentah atau crude untuk keperluan operasional kilang di seluruh Indonesia yang tercatat melampaui batas minimum. Selain penguatan stok BBM, pemerintah tengah menyoroti ketimpangan antara konsumsi dan produksi liquefied petroleum gas (LPG).
Data kementerian menunjukkan konsumsi LPG mencapai 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya mampu menyuplai sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton. Guna menambal kekurangan 7 juta ton yang saat ini diimpor, pemerintah mengkaji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dan Dimethyl Ether (DME).
"Sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporakan adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan," jelas Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Dalam upaya memperkuat ketahanan energi jangka panjang, pemerintah merumuskan strategi yang mencakup peningkatan lifting migas dan percepatan program bahan bakar nabati. Program biodiesel B50 dan bioetanol E20 dipersiapkan untuk mengurangi ketergantungan pada solar impor.
Uji coba B50 pada sektor otomotif dilaporkan memberikan hasil positif tanpa kendala pada komponen mesin, yang kemudian dilanjutkan dengan pengujian pada sektor perkeretaapian. Langkah diversifikasi ini dipandang sebagai instrumen vital dalam menghadapi krisis energi global.
"Kita itu ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam menghadapi krisis energi dunia sekarang. Yang pertama adalah kita harus mengoptimalkan lifting kita. Yang kedua adalah mencari diversifikasi, seperti B50. B50 itu kan mengurangi impor solar kita. Yang ketiga adalah kita harus dorong ke E, untuk bensin. Etanol, E20. Itu adalah bagian salah satu strategi," pungkas Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.