Starbucks Korea secara resmi menyampaikan permohonan maaf terkait kontroversi promosi bertajuk "Tank Day" yang memicu kemarahan publik. Kampanye tersebut dianggap sangat tidak sensitif karena menyentuh luka sejarah masyarakat Korea Selatan.
Pihak manajemen mengakui adanya kegagalan dalam proses pengembangan promosi yang melibatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Penggunaan AI tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek sensitivitas sosial dan latar belakang sejarah negara tersebut.
Tragedi Berdarah di Balik Kontroversi Starbucks
Masalah ini bermula ketika Starbucks Korea merilis koleksi tumbler bertema tank tepat pada tanggal 18 Mei lalu. Tanggal tersebut merupakan momen peringatan Gerakan Pro-Demokrasi Gwangju yang sangat sakral bagi warga Korea Selatan.
Peristiwa Gwangju pada tahun 1980 merupakan tragedi kelam saat militer melakukan tindakan represif terhadap para aktivis. Berdasarkan data resmi, insiden berdarah tersebut menyebabkan ratusan warga sipil tewas dan hilang.
Rincian korban dalam tragedi Gerakan Pro-Demokrasi Gwangju 1980:
- Sedikitnya 165 warga sipil dilaporkan tewas di lokasi kejadian.
- Terdapat 65 orang yang dinyatakan hilang dan tidak pernah ditemukan.
- Sekitar 376 orang lainnya meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita.
Data ini menunjukkan betapa dalamnya dampak emosional yang dirasakan masyarakat Korea Selatan terhadap peristiwa sejarah tersebut.
Lemahnya Pengawasan Internal Perusahaan
Dalam konferensi pers di Seoul, Shinsegae Group selaku induk perusahaan mengungkapkan bahwa kampanye ini terlalu mengejar kecepatan peluncuran. Akibatnya, makna historis tanggal 18 Mei terabaikan dalam proses perencanaan.
Investigasi internal menunjukkan adanya kelalaian serius dalam proses persetujuan desain oleh jajaran pejabat perusahaan. Beberapa pejabat dilaporkan menyetujui kampanye melalui email tanpa memeriksa berkas desain yang terlampir secara mendalam.
Informasi mengenai kegagalan sistem operasional internal:
| Aspek Kelalaian | Detail Temuan Investigasi |
|---|---|
| Proses Persetujuan | Tujuh pejabat menandatangani dokumen tanpa membuka file desain asli. |
| Tinjauan Hukum | Prosedur peninjauan oleh tim legal yang seharusnya wajib, justru dilewati. |
| Fokus Utama | Perusahaan lebih memprioritaskan kecepatan eksekusi daripada akurasi konten. |
Ringkasan di atas menunjukkan bahwa masalah ini merupakan bentuk kegagalan sistemik, bukan sekadar kesalahan teknis satu individu saja.
Dampak Boikot dan Pemecatan CEO
Insiden ini berujung pada konsekuensi berat, termasuk penurunan angka penjualan yang sangat drastis di seluruh gerai. Gelombang protes masyarakat dan anggota parlemen bahkan memicu aksi boikot besar-besaran terhadap Starbucks.
Menanggapi krisis ini, CEO Starbucks Korea, Son Jung-hyun, resmi dicopot dari jabatannya. Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban atas hilangnya sensitivitas sosial di lingkungan perusahaan.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, turut memberikan kecaman keras terhadap strategi pemasaran tersebut. Beliau menyebut kampanye promosi itu sebagai tindakan yang memalukan dan tidak berperikemanusiaan.
Saat ini, pihak kepolisian setempat juga tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut. Penyelidikan ini bertujuan untuk memastikan apakah ada unsur kesengajaan di balik pemilihan tema dan waktu kampanye tersebut.
Permohonan Maaf Terbuka Pimpinan Tertinggi
Chairman Shinsegae Group, Chung Yong-jin, akhirnya tampil ke publik untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia secara khusus meminta maaf kepada seluruh keluarga korban tragedi Gwangju atas kegaduhan yang terjadi.
"Saya tidak akan mencari-cari alasan. Saya memikul tanggung jawab penuh atas masalah ini," ujar Chung sambil membungkuk sebagai tanda penyesalan di hadapan media.
Meski telah meminta maaf, Chung memilih untuk tidak melayani sesi tanya jawab dengan jurnalis setelah memberikan pernyataan resmi. Publik kini menunggu langkah nyata perusahaan dalam memperbaiki sensitivitas budaya mereka di masa depan.