Peluang karier generasi muda saat ini tidak lagi terpaku pada jalur konvensional, melainkan mulai merambah ke dunia wirausaha yang memberikan dampak nyata. Melalui Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program (SCYEP), siswa SMA dan SMK di Indonesia didorong untuk memiliki pola pikir kreatif dan adaptif sejak dini.
Program yang dilansir dari Suara ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Prestasi Junior Indonesia (PJI), Starbucks Indonesia, dan The Starbucks Foundation. Inisiatif ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga mengajak para pelajar terjun langsung membangun dan mengelola usaha melalui konsep perusahaan siswa.
Para peserta didik dilatih untuk menciptakan produk orisinal, melakukan manajemen keuangan secara mandiri, hingga memasarkan bisnis mereka di lingkungan sekolah. Langkah ini bertujuan membangun mentalitas tangguh dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang terus berubah dengan cepat.
Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2019, SCYEP tercatat telah menjangkau lebih dari 6.000 siswa di berbagai wilayah Indonesia. Pada tahun ajaran 2025/2026, terdapat lebih dari 1.000 siswa dari 15 sekolah yang tersebar dari Medan hingga Jayapura yang ikut berpartisipasi.
Keberhasilan program ini didukung oleh peran ratusan relawan profesional yang bertindak sebagai mentor bisnis bagi para siswa. Keterlibatan aktif para mitra Starbucks ini menjadi bagian dari komitmen sosial perusahaan dalam memperkuat hubungan dengan masyarakat luas.
"Sejak tahun 2011, partner Starbucks terus berkomitmen untuk memperkuat hubungan dengan masyarakat sebagai bagian dari Bulan Kebaikan Global. Di kegiatan ini, lebih dari 200 partner terlibat sebagai sukarelawan untuk memberikan pendampingan terhadap siswa-siswi dalam merintis dan mengembangkan perusahaan siswa," ujar Avolina Raharjanti, Senior General Manager Corporate Public Relation PT Sari Coffee Indonesia.
Avolina menambahkan bahwa pendampingan intensif tersebut merupakan upaya konkret untuk mempromosikan kewirausahaan sebagai pilihan karier masa depan yang menjanjikan. Program ini menggabungkan modul JA Be Entrepreneurial untuk dasar pola pikir dan JA Company Program untuk praktik bisnis nyata.
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, menilai kombinasi kedua pendekatan tersebut sangat efektif dalam membantu siswa menghadapi tantangan dunia usaha. Kepercayaan untuk mencoba dan belajar dari kegagalan menjadi bagian esensial dari proses pembelajaran ini.
"Program ini menghadirkan pendekatan pembelajaran kewirausahaan yang semakin komprehensif. Siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengimplementasikan ide menjadi usaha nyata yang inovatif dan berkelanjutan," kata Utami Anita Herawati.
Pemerintah juga memberikan apresiasi terhadap inisiatif ini karena dianggap sebagai ruang strategis untuk mengembangkan keterampilan non-akademik pelajar. Leontinus Alpha Edison memandang kolaborasi tersebut sebagai langkah nyata dalam memberdayakan generasi muda melalui inovasi dan kepedulian sosial.
"Kami mengapresiasi inisiatif ini sebagai wujud nyata kolaborasi dalam mendorong pemberdayaan generasi muda melalui kewirausahaan. Program ini menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan keterampilan bisnis, inovasi, serta kepedulian sosial dan lingkungan," ujar Leontinus Alpha Edison.
Melalui kompetisi Regional Student Company, para siswa diuji dalam berbagai aspek mulai dari strategi pemasaran hingga potensi pengembangan bisnis jangka panjang. Bekal pengalaman ini diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya mencari kerja, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.