Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melaporkan kondisi stabilitas sektor keuangan nasional tetap terjaga pada kuartal I/2026 meski menghadapi tekanan ketidakpastian global akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Kondisi ini dipaparkan dalam konferensi pers KSSK di kantor OJK, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Ketua KSSK sekaligus Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa dinamika penyelesaian konflik global menjadi pemicu utama volatilitas pasar keuangan pada April 2026. Hal tersebut terutama dipengaruhi oleh lonjakan harga energi di pasar internasional.
"Berdasarkan perkembangan tersebut, KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward-looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini," terang Purbaya, dilansir dari Ekonomi.
Penegasan tersebut merupakan hasil dari rapat KSSK II/2026 yang diselenggarakan pada Senin (27/4/2026). Selain memantau risiko global, Purbaya menyoroti pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal I/2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan (yoy), angka tertinggi sejak tahun 2010 menurut data BPS.
"Kami akan melihat seperti apa di triwulan kedua tahun ini kami waspadai semua kendala yang mungkin timbul," tutur Purbaya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan ketahanan eksternal Indonesia tetap solid menghadapi dampak konflik di Timur Tengah. Perry merujuk pada capaian neraca perdagangan periode Januari hingga Maret 2026 yang mencatatkan surplus sekitar US$5,5 miliar.
"Capital inflow juga terjadi aliran masuk modal asing yang pada hingga 30 April mencapai US$3,3 miliar terutama instrumen SRBI dan SBN setelah triwulan I outflow US$1,7 miliar," jelas Perry. Aliran masuk modal asing tersebut didominasi oleh instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).