Sinergi Fiskal Moneter Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I/2026

Sinergi Fiskal Moneter Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I/2026
Foto: Ilustrasi Sinergi Fiskal Moneter Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I/2026.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia berhasil mencatatkan penguatan pada kuartal I/2026 di tengah tingginya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik. Capaian ini didorong oleh sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif serta solidnya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah pusat.

Dilansir dari Finansial, Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat tumbuh sebesar 5,61% secara tahunan (YoY) hingga Maret 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode kuartal IV/2025 yang berada pada level 5,4%.

Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Ari Rizaldi, menjelaskan bahwa ketahanan ekonomi domestik tetap terjaga meski pasar global menghadapi volatilitas harga komoditas. Pihaknya optimistis strategi kebijakan yang tepat dapat mengoptimalkan peluang di tengah tantangan yang ada.

"Ke depan, tantangan global akan terus ada, namun di balik setiap tantangan juga terdapat peluang yang dapat dioptimalkan melalui strategi yang tepat. Dengan sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif, kami meyakini pertumbuhan ekonomi dapat terus terjaga secara berkelanjutan," ujar Ari dalam Mandiri Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Akselerasi pertumbuhan pada awal tahun ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang naik 5,52% YoY. Selain itu, belanja pemerintah mengalami lonjakan signifikan sebesar 21,8% YoY yang dipicu oleh implementasi berbagai program prioritas nasional.

Beberapa program tersebut mencakup inisiatif Makan Bergizi Gratis, pengembangan Koperasi Desa Merah Putih, hingga pembangunan infrastruktur sekolah rakyat. Program-program ini dinilai menjadi mesin penggerak utama dalam percepatan realisasi belanja negara.

Dari sisi eksternal, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah menyebabkan harga minyak mentah dunia menembus angka US$100 per barel. Kondisi tersebut memicu tekanan pada nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi sebesar 3,9% sepanjang tahun berjalan 2026.

Guna meredam dampak volatilitas tersebut, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valuta asing. Koordinasi lintas otoritas antara pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan stabilitas sistem keuangan nasional.

Sektor perbankan juga menunjukkan performa positif dengan penyaluran kredit industri yang tumbuh 9,49% YoY. Kualitas aset tetap sehat dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di level 2,14% dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 13,55% YoY.

Bank Mandiri sendiri mencatatkan pertumbuhan kredit bank only sebesar 17,4% YoY menjadi Rp1.530 triliun hingga Maret 2026. Dana murah atau CASA perseroan tumbuh 12,7% YoY mencapai Rp1.201 triliun, sementara laba bersih konsolidasi melonjak 16,6% menjadi Rp15,4 triliun.

Eksistensi permodalan bank tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di angka 19,7% dan Return on Equity (ROE) sebesar 22,1%. Efisiensi operasional juga membaik yang ditunjukkan oleh rasio BOPO pada level 58%.

"Kami akan terus menjalankan strategi bisnis secara disiplin dan terukur, sekaligus memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," kata Ari.

Pada periode yang sama, Bank Mandiri telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp11 triliun kepada lebih dari 87 ribu pelaku UMKM. Perseroan juga memfasilitasi layanan keuangan bagi 6.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam mendukung program pemerintah.

Selain itu, dukungan sektor perumahan diwujudkan melalui pembiayaan 2.300 unit hunian. Bank Mandiri juga terlibat aktif dalam memperkuat ekosistem ekonomi desa dengan mendukung pengembangan sekitar 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi