Amir Hamzah Sebut Serangan Digital Terhadap Prabowo Terstruktur

Amir Hamzah Sebut Serangan Digital Terhadap Prabowo Terstruktur
Foto: Ilustrasi Amir Hamzah Sebut Serangan Digital Terhadap Prabowo Terstruktur.

Gelombang serangan terhadap Presiden Prabowo Subianto di berbagai platform media sosial dinilai menunjukkan pola tidak biasa yang sistematis, masif, dan terstruktur. Hal tersebut disampaikan oleh pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, pada Kamis (28/5/2026), sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.

Amir Hamzah menjelaskan bahwa aktivitas di ruang digital tersebut bukan lagi sekadar perdebatan biasa antarpendukung politik, melainkan sudah masuk dalam kategori operasi delegitimasi terhadap kekuasaan politik yang sah.

ÔÇ£Kalau kita lihat polanya, ini bukan hanya kritik spontan masyarakat. Ada orkestrasi narasi, ada pengulangan isu, ada penggiringan emosi publik, dan ada target utama yaitu menurunkan legitimasi Presiden Prabowo di mata rakyat,ÔÇØ kata Amir Hamzah, pengamat intelijen dan geopolitik.

Indikator kelolaan terstruktur ini terlihat dari kemunculan isu serupa secara simultan di berbagai platform dalam waktu berdekatan dengan sokongan akun anonim hingga influencer. Amir Hamzah mengategorikan fenomena ini sebagai perang psikologis untuk mengarahkan opini publik.

ÔÇ£Tujuan akhirnya bukan hanya membuat pemerintah dikritik, tapi menciptakan ketidakpercayaan publik secara luas. Itu yang disebut delegitimasi,ÔÇØ ujar Amir Hamzah.

Menurut analisisnya, fenomena tersebut menyerupai operasi digital di beberapa negara luar saat opini publik dimanipulasi sebelum munculnya tekanan politik yang lebih besar.

ÔÇ£Sekarang perang itu hybrid war. Medan tempurnya bukan cuma militer, tapi juga media sosial. Jika opini publik dikendalikan, stabilitas politik bisa diguncang tanpa harus mengerahkan pasukan,ÔÇØ kata Amir Hamzah.

Dirinya menambahkan bahwa pergerakan lintas platform yang konsisten ini memerlukan pembiayaan besar untuk membiayai penyediaan tim produksi konten hingga pengelolaan tren utama.

ÔÇ£Operasi ini mahal. Butuh buzzer, tim produksi konten, distribusi isu, penguatan algoritma, sampai pengelolaan trending topic. Jadi kalau berlangsung massif dan konsisten, sulit disebut organik,ÔÇØ ujarnya Amir Hamzah.

Aktivitas penyerangan digital ini diduga melibatkan kelompok elite berpengalaman dalam perang informasi demi memunculkan persepsi bahwa negara sedang mengalami kegagalan.

ÔÇ£Kalau setiap hari publik disuguhi narasi negatif, lama-lama terbentuk kesan negara sedang gagal. Itu teknik klasik operasi persepsi,ÔÇØ ujarnya Amir Hamzah.

Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, pemerintah disarankan untuk meningkatkan deteksi dini, memetakan jaringan penyebaran isu, serta melacak sumber pembiayaannya.

ÔÇ£Intelijen modern harus mampu membaca traffic opini digital. Sebab, hari ini serangan pada negara bisa dimulai dari algoritma,ÔÇØ katanya Amir Hamzah.

Artikel terkait

Rekomendasi