Sengketa Klaim Asuransi Tambang Meningkat Akibat Risiko Operasional

Sengketa Klaim Asuransi Tambang Meningkat Akibat Risiko Operasional
Foto: Ilustrasi Sengketa Klaim Asuransi Tambang Meningkat Akibat Risiko Operasional.

Sektor pertambangan menghadapi peningkatan risiko operasional dan potensi sengketa klaim asuransi akibat karakteristik bisnis yang kompleks serta dampak fenomena alam pada Senin (20/4/2026). Dilansir dari Money, kondisi ini menekan kinerja industri asuransi yang memberikan perlindungan bagi perusahaan tambang pemegang izin resmi.

Ketua Komite Pertambangan Bidang ESDM Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hendra Sinadia menjelaskan bahwa pemahaman mendalam dari pihak asuransi sangat diperlukan untuk memitigasi potensi sengketa tersebut.

ÔÇ£Ini terjadi bisa saja pada semua pertambangan, maka itu perlu pemahaman bagi asuransi soal bisnis tambang yang penuh risiko,ÔÇØ ujar Hendra Sinadia, Ketua Komite Pertambangan Bidang ESDM Apindo.

Hendra menegaskan bahwa perusahaan tambang yang memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) maupun Kontrak Karya pada dasarnya telah mengikuti regulasi yang ditetapkan pemerintah mengenai praktik tambang yang baik.

ÔÇ£Tetapi saya pikir pemegang izin pertambangan baik IUP ataupun Kontrak Karya sudah menjalankan hal itu, karena di IUP ataupun Kontrak Karya hak dan kewajiban diatur sangat rinci,ÔÇØ ucap Hendra Sinadia.

Faktor eksternal seperti pemanasan global juga memperparah risiko bencana hidrometeorologi yang sulit dihindari oleh para pelaku industri di lapangan.

ÔÇ£Apa yang terjadi di tambang bawah tanah Freeport misalnya karena adanya hidrometeorologi tidak bisa dihindarkan,ÔÇØ imbuh Hendra Sinadia.

Kejadian longsor pada area operasional menjadi salah satu contoh nyata kerentanan fisik yang dialami perusahaan tambang besar di Indonesia.

ÔÇ£Demikian juga dengan perusahaan tambang Toka Tindung ketika terkena bencana alam longsor, itu sangat mungkin terjadi,ÔÇØ lanjut Hendra Sinadia.

Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak menambahkan, perbedaan persepsi risiko antara penanggung dan tertanggung menjadi akar utama munculnya perselisihan klaim.

ÔÇ£Perusahaan asuransi yang masuk ke sektor ini seharusnya memiliki underwriter dan risk engineer yang memahami karakteristik pertambangan,ÔÇØ jelas Ali Ahmudi Achyak, Direktur Eksekutif CESS.

Sebagai data pembanding, PT Merdeka Copper Gold Tbk pernah mencatat pendapatan klaim asuransi senilai 42,56 juta dollar AS atau setara Rp 701,24 miliar pada semester I 2022 akibat kerusakan material dan gangguan bisnis.

Selain risiko fisik, kebijakan pemangkasan produksi batu bara pada 2026 turut mengancam stabilitas premi asuransi nasional.

ÔÇ£Penurunan produksi akan mengurangi volume pengiriman batu bara, sehingga premi marine cargo berpotensi turun,ÔÇØ ujar Irvan Rahardjo, Pengamat Asuransi.

Irvan memperingatkan bahwa utilitas alat berat yang menurun akan berdampak berantai pada lini asuransi rekayasa dan pengangkutan barang.

ÔÇ£Utilisasi alat berat yang lebih rendah juga berdampak pada premi asuransi alat berat dan engineering,ÔÇØ lanjut Irvan Rahardjo.

Kelesuan aktivitas tambang justru berpotensi memicu klaim baru yang berasal dari penundaan proyek serta kerusakan aset yang lama tidak dioperasikan.

ÔÇ£Penurunan volume produksi/ekspor mengurangi aktivitas pengiriman barang (marine cargo), menurunkan kebutuhan alat berat, dan mengurangi risiko aset tertanggung, yang berdampak pada penurunan premi dan potensi klaim,ÔÇØ ungkap Irvan Rahardjo.

Merespons dinamika tersebut, Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo Brellian Gema Widayana menyatakan bahwa dampak akhir masih menunggu realisasi kebijakan pemerintah di lapangan.

ÔÇ£Kami memandang dampaknya terhadap industri asuransi masih akan sangat bergantung pada kebijakan final serta implementasinya di lapangan,ÔÇØ ujar Brellian Gema Widayana, Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo.

Brellian menilai kondisi industri saat ini masih dalam batas kewajaran meski tantangan di sektor batu bara mulai terlihat.

ÔÇ£Pada tahap ini, kami melihat situasi masih dalam koridor yang terkendali,ÔÇØ tambah Brellian Gema Widayana.

Corporate Secretary PT Asuransi Digital Bersama Tbk Rahmat Dwiyanto menyebutkan tingkat dampak akan bervariasi tergantung pada fokus pasar masing-masing perusahaan asuransi.

ÔÇ£Secara umum, dampaknya akan sangat bergantung pada komposisi portofolio. Perusahaan dengan paparan besar di sektor tambang tentu berpotensi terdampak,ÔÇØ ujar Rahmat Dwiyanto, Corporate Secretary PT Asuransi Digital Bersama Tbk.

Presiden Direktur PT Asuransi Wahana Tata Christian Wanandi menggarisbawahi bahwa target pertumbuhan premi sangat bergantung pada aktivitas produksi riil di lokasi tambang.

ÔÇ£Dampaknya mungkin saja terjadi, tetapi semuanya tergantung pada rencana RKAB masing-masing perusahaan batu bara,ÔÇØ ujar Christian Wanandi, Presiden Direktur PT Asuransi Wahana Tata.

Christian memastikan bahwa penurunan aktivitas pengiriman dan penggunaan alat berat akan secara otomatis menghentikan pertumbuhan premi di kedua sektor tersebut.

ÔÇ£Yang pasti, pertumbuhan premi asuransi alat berat dan marine cargo tidak terjadi apabila aktivitasnya memang menurun,ÔÇØ jelas Christian Wanandi.

Artikel terkait

Rekomendasi