Kebiasaan berpose dengan gaya dua jari membentuk huruf V saat mengambil foto selfie ternyata menyimpan celah keamanan berbahaya. Aktivitas sepele yang populer di wilayah Asia ini berpotensi mengancam privasi pemiliknya.
Seperti dikutip dari Detik iNET, peningkatan resolusi kamera smartphone yang makin tajam membuat pencurian data sidik jari melalui foto biasa kini sangat mungkin dilakukan oleh para peretas.
Kekhawatiran mengenai ancaman keamanan ini kembali menjadi perbincangan hangat di jejaring sosial China. Para ahli mengklaim foto selfie yang memperlihatkan ujung jari secara langsung dari jarak sekitar 1,5 meter sudah cukup untuk merekam detail garis sidik jari.
Pakar keuangan Li Chang memperingatkan bahwa pelaku kejahatan siber dapat memanfaatkan perangkat lunak edit foto dan kecerdasan buatan (AI). Teknologi tersebut digunakan untuk mempertajam struktur sidik jari yang tersembunyi di balik foto.
Profesor di University of Chinese Academy of Sciences, Jing Jiwu, mengonfirmasi hal tersebut. Meski faktor pencahayaan, efek blur, dan titik fokus dapat menyulitkan proses ekstraksi, kehadiran foto beresolusi tinggi akan mempermudah pencurian data biometrik.
Secara teori, gambar sidik jari yang berhasil diekstrak dapat digunakan untuk mengelabui pemindai biometrik. Peretas bisa membobol kunci ponsel, laptop, sistem pembayaran, hingga akun online milik korban.
Konsep pembobolan semacam ini bukan hal baru di dunia keamanan siber. Pada tahun 2014, peneliti biometrik Jan Krissler sukses merekonstruksi sidik jari milik Menteri Pertahanan Jerman hanya bermodalkan foto-foto tangan yang beredar di ruang publik.
Proses kloning sidik jari di masa lalu dianggap kurang praktis karena membutuhkan kondisi terkontrol dan teknik pemrosesan khusus. Namun, kehadiran fitur komputasi fotografi canggih pada kamera ponsel modern kini menurunkan syarat peretasan tersebut.
Para peneliti di Kraken Security Labs mendemonstrasikan metode pembobolan pemindai sidik jari pada tahun 2021. Mereka hanya membutuhkan sebuah foto sidik jari, aplikasi Photoshop, printer laser, dan lem kayu untuk membuat sidik jari palsu yang berfungsi sempurna.
Alasan Autentikasi Sidik Jari Tetap Menjadi Pilihan
Autentikasi sidik jari hingga kini masih menjadi pilihan utama untuk membuka kunci perangkat dan aplikasi meski memiliki keterbatasan keamanan. Jutaan smartphone, tablet, dan laptop masih sangat bergantung pada teknologi ini.
Faktor kenyamanan menjadi alasan sederhana di balik bertahannya sistem ini. Teknologi biometrik mampu memangkas kerumitan pengguna secara drastis dibandingkan keharusan mengetik kata sandi yang panjang.
Sistem ini juga dinilai masih cukup tangguh untuk memberikan perlindungan terhadap tindakan pencurian biasa. Teknologi tersebut mampu mencegah akses tidak sah dari orang-orang yang berada di sekitar pengguna.