Selandia Baru Puncaki Global Life-Work Balance Index 2025

Selandia Baru Puncaki Global Life-Work Balance Index 2025
Foto: Ilustrasi Selandia Baru Puncaki Global Life-Work Balance Index 2025.

Tren bekerja hingga larut malam tanpa henti mulai ditinggalkan oleh masyarakat modern di abad ke-21. Keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, atau work-life balance, kini menjadi parameter utama dalam mengukur tingkat kesejahteraan pekerja di berbagai belahan dunia.

Dikutip dari Money, laporan terbaru bertajuk Global Life-Work Balance Index 2025 yang dipublikasikan oleh Remote.com mengungkapkan bahwa banyak negara masih memiliki kualitas keseimbangan hidup yang rendah. Studi ini melibatkan analisis mendalam terhadap 60 negara dengan kekuatan ekonomi terbesar berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB).

Metode penilaian menggunakan skor komposit dengan skala maksimal 100 poin. Indikator yang digunakan mencakup durasi jam kerja, ketersediaan cuti, upah minimum, akses terhadap layanan kesehatan, hingga tingkat kebahagiaan para pekerjanya.

Selandia Baru berhasil mengukuhkan posisinya di peringkat pertama sebagai negara dengan work-life balance terbaik di dunia. Negara ini mencatatkan skor tinggi sebesar 86,59, disusul oleh Irlandia di posisi kedua dengan perolehan skor 81,17.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Amerika Serikat yang menjadi sorotan tajam dalam laporan tersebut. Negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini terpuruk di peringkat ke-59 secara global, atau menjadi yang kedua terburuk di dunia dengan skor hanya 31,17.

Peringkat Amerika Serikat terus merosot dalam beberapa tahun terakhir, dari posisi 53 pada 2023 menjadi peringkat 55 pada 2024, hingga akhirnya menyentuh posisi 59 pada 2025. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketiadaan kewajiban cuti berbayar dan cuti melahirkan secara federal, yang menandakan prioritas lebih besar pada produktivitas dibandingkan kesejahteraan.

Negara dengan Skor Terendah

Nigeria menempati urutan paling buncit di posisi ke-60 dengan skor 30,07. Rendahnya akses kesehatan, minimnya fasilitas cuti, serta masalah keamanan menjadi kendala utama bagi para pekerja di negara tersebut.

Selain itu, sejumlah negara di kawasan Asia dan Timur Tengah juga masuk dalam daftar dengan performa terburuk. China misalnya, tercatat hanya memberikan cuti tahunan sekitar 5 hari setelah tahun pertama kerja dengan rata-rata jam kerja mencapai 46,1 jam per minggu.

Kondisi serupa terjadi di India dengan durasi kerja 45,7 jam per minggu dan upah minimum yang sangat rendah, yakni sekitar 0,27 dollar AS per jam. Di Uni Emirat Arab, beban kerja bahkan mencapai hampir 49 jam per minggu, meskipun tingkat kebahagiaan di sana relatif terbantu oleh dukungan sosial yang kuat.

Posisi Indonesia di Peringkat Global

Indonesia berada dalam posisi yang relatif cukup baik dan tidak termasuk dalam daftar 20 negara dengan work-life balance terburuk. Indonesia mengantongi skor 51,22 dan berada di peringkat ke-35 dari 60 negara yang dianalisis.

Peringkat Indonesia ini terpantau lebih unggul jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam yang berada di posisi 39 dan Thailand di posisi 40. Namun, pencapaian Indonesia masih berada di bawah Singapura yang menempati urutan 27 dan Malaysia di urutan 29.

Remote.com menegaskan bahwa rendahnya kualitas keseimbangan hidup biasanya dipicu oleh kombinasi faktor jam kerja yang panjang, cuti terbatas, upah rendah, hingga minimnya akses kesehatan. Unsur sosial seperti keamanan dan inklusivitas juga memegang peranan krusial bagi kualitas hidup pekerja secara menyeluruh.

Daftar Skor Global Life-Work Balance Index 2025 Beberapa Negara
NegaraPeringkatSkor Komposit
186,592
81,1727[DATA TIDAK TERSEDIA]
29[DATA TIDAK TERSEDIA]35
51,2239[DATA TIDAK TERSEDIA]
40[DATA TIDAK TERSEDIA]59
31,176030,07

Artikel terkait

Rekomendasi