Sektor Pertambangan Kontraksi 2,14 Persen pada Kuartal I 2026

Sektor Pertambangan Kontraksi 2,14 Persen pada Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Sektor Pertambangan Kontraksi 2,14 Persen pada Kuartal I 2026.

Kinerja sektor pertambangan di Indonesia mencatatkan penurunan sebesar 2,14 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I/2026. Penurunan ini terjadi saat ekonomi nasional secara keseluruhan masih mampu tumbuh positif di angka 5,61 persen yoy.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa koreksi juga terlihat secara kuartalan. Laju industri pertambangan menyusut hingga 8,20 persen pada kuartal I/2026 jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal IV/2025.

Padahal, sektor ini merupakan penopang vital bagi Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Bersama industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi, sektor pertambangan menyumbang sekitar 63,52 persen terhadap total PDB Indonesia.

Dilansir dari Ekonomi, pelemahan ini dipicu oleh merosotnya volume produksi batu bara dan migas. Hal tersebut terjadi di tengah melambatnya permintaan dari pasar global, terutama dari China, serta adanya tekanan pada harga komoditas.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa faktor internal turut menghambat aktivitas produksi pada awal tahun 2026. Beberapa di antaranya adalah penyesuaian kuota produksi serta keterlambatan dalam persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB).

"Penyebab utama kontraksi tersebut menurut saya adalah pelemahan volume produksi, terutama pada batu bara dan migas," kata Josua.

Josua menambahkan bahwa kondisi ini memiliki dampak berantai yang luas. Hal ini dikarenakan pertambangan berkaitan erat dengan ekspor, pendapatan negara, industri alat berat, logistik, hingga stabilitas ekonomi di daerah penghasil komoditas.

"Jika penurunan kuota produksi batu bara dan nikel dilakukan terlalu cepat tanpa melihat permintaan ekspor, kemampuan serapan hilirisasi, dan kesiapan perusahaan, dampaknya bisa menekan volume produksi dan PDB sektor pertambangan," kata Josua.

Fenomena ini juga dipandang sebagai sinyal melemahnya sumber pertumbuhan ekonomi yang berbasis komoditas. Menurut Josua, kondisi saat ini tidak sekokoh tahun-tahun sebelumnya dalam menopang struktur ekonomi nasional.

"Jadi, kontraksi ini bukan sekadar masalah satu sektor, tetapi sinyal bahwa sumber pertumbuhan berbasis komoditas sedang tidak sekokoh tahun-tahun sebelumnya," kata Josua.

Proyeksi Kinerja Hingga Akhir Tahun

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda memberikan pandangan senada mengenai penyebab koreksi ini. Ia menilai penurunan harga komoditas global mengurangi minat perusahaan untuk menggenjot volume produksi mereka.

Koreksi harga tersebut membatasi aktivitas operasional tambang yang berujung pada penurunan nilai tambah bruto. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan biaya distribusi turut menekan permintaan pasar internasional.

"Ketika harga turun, maka insentif perusahaan pertambangan untuk memproduksi lebih banyak akan berkurang. Maka sangat bisa dimengerti ada koreksi terhadap nilai tambah bruto sektor pertambangan," kata Nailul.

Tekanan terhadap industri ini diprediksi akan terus berlanjut hingga penghujung tahun 2026. Situasi geopolitik yang belum stabil dan fluktuasi harga minyak mentah dunia menjadi faktor penentu utama bagi penyesuaian permintaan komoditas kedepannya.

"Permintaan komoditas tambang kita masih mengalami penyesuaian hingga akhir tahun ini," kata Nailul.

Distribusi PDB dan Pertumbuhan Sektoral Kuartal I/2026
Lapangan UsahaDistribusi PDB (%)Pertumbuhan yoy (%)
Industri Pengolahan19,075,04
Perdagangan13,286,26
Pertanian12,674,97
Konstruksi9,815,49
Pertambangan8,69-2,14
Transportasi & Pergudangan6,118,04
Infokom4,427,14
Jasa Keuangan4,204,68
Administrasi Pemerintahan3,376,45
Akomodasi & Makan Minum2,7913,14
Jasa Pendidikan2,765,18
Real Estat2,263,54
Jasa Lainnya2,209,91
Jasa Perusahaan1,974,91
Jasa Kesehatan1,247,62
Pengadaan Listrik & Gas0,95-0,99
Pengadaan Air0,060,42

Artikel terkait

Rekomendasi