Sektor perbankan kembali mendominasi jajaran emiten berkapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia setelah nilai pasar saham konglomerasi menyusut signifikan pada Selasa (19/5/2026).
Pergeseran ini menandai berakhirnya era emiten bernilai di atas Rp 1.000 triliun di bursa domestik, seperti dilansir dari Investasi.
Kondisi tersebut berbalik dari akhir 2025 saat PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memimpin dengan kapitalisasi Rp 1.298 triliun atau 8,19 persen dari total bursa.
Kini nilai pasar BREN merosot menjadi sekitar Rp 404 triliun (3,64 persen) dan menempati peringkat keempat, sementara PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun ke posisi empat dengan nilai Rp 270 triliun.
Sebaliknya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menguat di posisi puncak dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 726 triliun atau 6,54 persen dari total bursa.
Sektor finansial semakin kokoh karena PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga sukses menembus jajaran enam besar bursa.
Di sisi lain, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang sebelumnya berada di tiga besar kini terlempar dari daftar 10 besar kapitalisasi pasar.
Perubahan struktur di pasar modal Indonesia ini dinilai menjadi indikator penting mengenai arah pergerakan investor global ke depan.
"Pasar sekarang mulai kembali membedakan market cap riil dengan market cap semu. Investor global lebih peduli free float, governance, likuiditas, dan transparansi dibanding sekadar angka kapitalisasi pasar," ujarnya, Selasa (19/5/2026) seperti dikemukakan Edwin Sebayang, Direktur Purwanto Asset Management.
Edwin menambahkan bahwa penurunan nilai pasar ini merupakan bentuk koreksi valuasi yang wajar setelah mengalami lonjakan yang terlalu agresif sebelumnya.
"Yang runtuh pertama kali bukan operasional bisnisnya, tetapi persepsi valuasi pasar. Sekarang investor mulai masuk ke fase ÔÇÿshow me the earnings," katanya.
Penyusutan ini berdampak pada berkurangnya dominasi saham konglomerasi terhadap bobot Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sehingga struktur pasar ke depan berpotensi lebih seimbang antar-lintas sektor.
Keluarnya modal asing dari saham-saham konglomerasi juga disinyalir menjadi pemicu utama penurunan kapitalisasi pasar tersebut.
"Ketika harga saham turun cukup dalam, market cap juga ikut turun. Ini menunjukkan pelaku pasar, khususnya asing, keluar dari saham tersebut," ujarnya seperti dinyatakan Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.
Nico menambahkan bahwa pelaku pasar saat ini bergerak lebih selektif dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kokoh, prospek pertumbuhan jelas, dan likuiditas tinggi.
Untuk menghadapi volatilitas pasar yang terjadi saat ini, ia menyarankan pelaku pasar mencermati saham blue chip seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, serta TPIA.