Layanan bus TransJakarta kini telah beroperasi selama hampir dua dekade sejak pertama kali diluncurkan pada 15 Januari 2004. Gagasan mengenai sistem transportasi ini mulai muncul pada 2001 di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
Dilansir dari Investortrust, perencanaan proyek ini melibatkan lintas institusi termasuk Institute for Transportation & Development Policy (ITDP). Desain sistemnya mengacu pada TransMilenio di Bogota, Kolombia, meskipun sempat menuai kritik pada masa awal perencanaan.
Kehadiran TransJakarta dipicu oleh masalah kemacetan akut di Jakarta yang menyebabkan polusi udara serius. Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, kerugian ekonomi akibat kemacetan di Ibu Kota mencapai Rp 65 triliun per tahun.
TransJakarta diklaim sebagai sistem Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Jalur operasinya kini mencapai panjang 256 kilometer (km) yang menjadikannya sebagai sistem BRT dengan lintasan terpanjang di dunia.
Koridor 1 dengan rute Blok M ÔÇô Jakarta Kota menjadi debut pertama yang melintasi pusat perkantoran Sudirman-Thamrin. Hingga saat ini, jalur tersebut tetap menjadi rute paling padat penumpang karena lokasinya yang strategis di pusat bisnis.
Manajemen pengelolaan terus berkembang sejak pembentukan Badan Pengelola TransJakarta Busway pada 2003. Statusnya kemudian berubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU) pada 2006, hingga akhirnya dikelola oleh BUMD PT Transportasi Jakarta sejak 2014.
Data Koridor dan Pertumbuhan Penumpang
Saat ini TransJakarta telah mengoperasikan 14 koridor utama, dengan Koridor 14 melayani rute Pasar Senen hingga Jakarta International Stadium (JIS). Selain koridor utama, tersedia banyak rute lintas koridor yang memberikan alternatif perjalanan bagi warga.
Kapasitas angkut penumpang mengalami lonjakan signifikan dari sekitar 300 ribu orang per hari pada 2017 menjadi 641 ribu orang pada 2018. Sebelum pandemi COVID-19, total penumpang harian bahkan sempat menyentuh angka satu juta orang.
Untuk mendukung mobilitas tersebut, jumlah armada terus ditingkatkan dari 2.380 unit pada 2017 menjadi 4.709 unit pada 2020. Jenis bus yang dioperasikan beragam, mulai dari mikrotrans sebanyak 1.865 unit hingga bus double decker berjumlah 28 unit.
Ambisi Elektrifikasi Armada Bus
TransJakarta kini mulai melakukan transisi dari bahan bakar minyak dan gas ke tenaga listrik. Langkah peremajaan ini juga sejalan dengan aturan pembatasan usia kendaraan angkutan umum maksimal sepuluh tahun yang berlaku sejak 2020.
Direktur Utama PT Transjakarta Welfizon Yuza menekankan bahwa penggunaan bus listrik merupakan strategi jangka panjang untuk ramah lingkungan. Perusahaan menargetkan separuh armada berbasis listrik pada 2027 dan mencapai 100 persen pada 2030.
"Kita harus merevisi target agar jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang," ujar Syafrin Liputo mengenai penyesuaian pengadaan bus listrik menjadi 100 unit karena kendala tertentu.
Terkait pengadaan armada listrik, TransJakarta menjalin kerja sama dengan Equipmake Holdings Plc dari Inggris dan PT VKTR Teknologi Mobilitas. Hingga kini, VKTR telah menyuplai 30 unit bus listrik merek BYD dan berencana menambah 22 unit lagi.
Anindya N Bakrie saat VKTR melantai di bursa menegaskan fokus pada kendaraan listrik komersial. "Berdasarkan data, kebutuhan bus di Jakarta mencapai lebih dari 10.000 unit hingga tahun 2030," kata Anindya.
Tarif Terjangkau dan Inovasi Layanan
Salah satu daya tarik utama moda transportasi ini adalah tarifnya yang tetap stabil sebesar Rp 3.500 sejak 2012. Bahkan pada pukul 05.00 hingga 07.00 pagi, penumpang hanya dikenakan tarif Rp 2.000 untuk sekali perjalanan.
Sistem pembayaran elektronik atau e-ticketing telah diterapkan sejak 2013 menggunakan kartu prabayar dari berbagai bank. Sejak 17 Agustus 2016, sistem Tap Out diwajibkan untuk memetakan data lokasi tujuan pelanggan demi perbaikan rute.
Meski tarif tidak naik dalam waktu lama, PT TransJakarta tetap mencatatkan kinerja keuangan positif. Pada tahun 2021, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp 270 miliar, meski menurun dari laba tahun 2020 yang mencapai Rp 378 miliar.
Inovasi layanan terus dilakukan, termasuk pengoperasian bus khusus perempuan berwarna pink yang diluncurkan pada 21 April 2016. Selain itu, modernisasi halte di koridor utama seperti jalur Thamrin dan Sudirman dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pengguna.