Secret Service Tembak Mati Pria Bersenjata di Luar Gedung Putih

Secret Service Tembak Mati Pria Bersenjata di Luar Gedung Putih
Foto: Ilustrasi Secret Service Tembak Mati Pria Bersenjata di Luar Gedung Putih.

Seorang pria bersenjata dilaporkan tewas setelah melepaskan tembakan di luar Gedung Putih, Washington, pada Sabtu malam waktu setempat, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang berada di dalam bangunan tersebut.

Aksi pelaku langsung direspons oleh agen Secret Service yang membalas tembakan di lokasi kejadian untuk melumpuhkan pria tersebut, seperti dilansir dari Media Indonesia.

Insiden bermula saat pelaku mendekati sisi barat perimeter keamanan Gedung Putih, namun petugas memastikan bahwa pelaku sama sekali belum sempat menembus area dalam. Selain pelaku yang tewas, peristiwa baku tembak ini juga mengakibatkan seorang warga sipil di sekitar lokasi mengalami luka serius dan segera dilarikan ke rumah sakit setempat.

Otoritas keamanan memperkirakan terdapat sekitar 15 hingga 30 tembakan yang dilesatkan selama insiden mencekam tersebut berlangsung. Beberapa agen Secret Service sempat menjalani pemeriksaan medis di tempat kejadian perkara, tetapi tidak ada petugas yang membutuhkan perawatan lanjutan di rumah sakit.

Biro Investigasi Federal langsung dikerahkan ke lokasi untuk membantu penanganan situasi pascapenembakan.

"FBI berada di lokasi dan mendukung Secret Service dalam merespons tembakan yang dilepaskan di dekat halaman Gedung Putih," kata Direktur FBI, Kash Patel.

Saat penembakan terjadi, Presiden Donald Trump yang berusia 79 tahun tengah berada di dalam Gedung Putih untuk merampungkan negosiasi draf perjanjian damai 14 poin dengan Iran. Pasukan keamanan segera bertindak cepat dengan menutup seluruh akses jalan dan mengerahkan personel tentara Garda Nasional guna memblokade kawasan pusat kota Washington.

Kepanikan besar melanda para turis serta jurnalis yang sedang berada di sekitar area tersebut ketika rentetan senjata mulai terdengar.

"Kami mendengar sekitar 20 hingga 25 suara yang terdengar seperti kembang api, tetapi itu adalah tembakan senjata, dan kemudian semua orang mulai berlari," ujar Reid Adrian, seorang turis asal Kanada.

Para jurnalis yang berada di halaman utara langsung diperintahkan petugas untuk berlindung di dalam ruang pengarahan pers. Koresponden ABC News, Selina Wang, bahkan sempat tiarap ke tanah dan merekam suara rentetan senjata tersebut.

"Terdengar seperti puluhan tembakan senjata," tulis Wang.

Kejadian ini memperpanjang rentetan ancaman keamanan terhadap Donald Trump setelah sebelumnya menghadapi tiga dugaan upaya pembunuhan, termasuk penembakan kampanye di Pennsylvania pada Juli 2024 dan insiden di Washington Hilton pada April lalu.

Anggota legislatif dari Partai Republik di DPR AS segera menyampaikan pernyataan resmi mereka terkait kondisi presiden dan situasi keamanan pascainsiden melalui media sosial.

"Syukur kepada Tuhan Presiden Trump aman," tulis mereka.

Pihak parlemen juga memberikan penghormatan tertinggi atas kesigapan para petugas keamanan yang berjaga di ring satu kediaman presiden tersebut.

"Apresiasi tanpa batas kepada Secret Service atas respons heroik dan cepat mereka. Kekerasan politik harus dihentikan," tulis mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi