Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merespons kondisi pasar modal dan pasar uang yang mengalami tekanan hebat pada Selasa (12/5/2026). Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah dan nilai tukar rupiah merosot, ia menilai stabilitas nasional masih dapat dipertahankan.
Data pasar menunjukkan IHSG berakhir pada level 6.858,899, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjun bebas hingga mencapai posisi Rp17.528. Sebagaimana dilansir dari Ekonomi, penurunan tajam pada sektor finansial ini memicu perhatian serius dari berbagai kalangan pemangku kepentingan.
SBY mengungkapkan pemantauannya terhadap situasi ekonomi terkini dari kediamannya di Jawa Tengah. Ia memberikan penilaian langsung terkait dinamika pasar yang sedang berlangsung.
"Saya, sambil melukis di Magelang, mengikuti perkembangan dan dinamika pasar. Baik pasar modal maupun pasar uang. Memang, kurang menggembirakan," kata SBY dalam pernyataannya di media sosial X.com, Selasa (12/5/2026).
Penegasan mengenai perlunya langkah antisipatif disampaikan oleh SBY guna mencegah dampak yang lebih masif. Menurutnya, Indonesia masih memiliki kekuatan politik serta cadangan ekonomi yang cukup untuk mencari jalan keluar dari himpitan ekonomi saat ini.
"Tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah. Tentu something must be done [tindakan harus diambil]. Kita masih memiliki political and economic resources. Opsi dan solusi masih tersedia," ujarnya.
Dalam tinjauannya, SBY menekankan bahwa keberhasilan menghadapi dinamika global memerlukan kesolidan antara pemerintah dan sektor swasta. Ia memandang kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memerlukan dukungan penuh dari para pakar dan pelaku industri.
"Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, pemerintah, dunia usaha, para ekonom dan seluruh pemangku kepentingan must be on board. In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama," tutur dia.
Selain itu, SBY mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap optimis dan memberikan ruang bagi pemerintah dalam bekerja. Harapan besar disampaikannya agar Indonesia mampu melewati fase fluktuasi ekonomi yang tidak menentu ini.
"Mari kita berikan kesempatan dan dukungan kepada pemerintah. Insya Allah Indonesia bisa," katanya.