Fenomena lulusan sarjana yang beralih menjadi pekerja sektor informal semakin marak di tengah ketatnya persaingan pasar tenaga kerja nasional pada Rabu (15/4/2026). Minimnya daya serap sektor formal memaksa para lulusan pendidikan tinggi mencari peluang di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka.
Kondisi struktur ketenagakerjaan di Indonesia saat ini dinilai masih didominasi oleh sektor non-formal. Berdasarkan data Angkatan Kerja Agustus 2025, proporsi tenaga kerja formal tercatat jauh lebih kecil dibandingkan dengan sektor lainnya, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Pengamat ketenagakerjaan Tadjuddin Noer menjelaskan bahwa keterbatasan sektor formal menjadi pendorong utama para sarjana memasuki pasar kerja prekariat.
"Pekerja yang bekerja di sektor formal itu hanya 40 persen menurut data Angkatan Kerja Agustus 2025 karena yang 2026 belum terbit. Sektor informalnya itu 60 persen," ujar Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Noer menambahkan bahwa ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan ketersediaan posisi di perusahaan resmi menjadi kendala yang nyata bagi angkatan kerja baru.
"Karena lagi-lagi, terutama sarjananya, kebanyakan pekerjaan yang tersedia di sektor formal itu sangat terbatas, makanya itu sektor formal itu sekarang itu yang terserap hanya sekitar 40 persen. Sisanya 60 persen itu sektor informal dan prekariat itu tadi," jelas Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Persoalan lain yang disoroti adalah adanya ketidaksesuaian atau mismatch antara bidang studi yang diambil mahasiswa dengan kebutuhan teknis industri saat ini.
"Banyak lapangan pekerjaan itu yang teknikal sementara lulusan kita itu sosial, jadi itu tidak match dengan pasar kerjanya," kata Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Banyaknya sarjana yang kesulitan menembus pasar kerja formal akhirnya memilih jalur alternatif demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Jadi menyebabkan kemudian para sarjana yang tidak masuk ke pasar kerja itu terpaksa mereka mengadu nasib di sektor informal atau prekariat," katanya Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Pekerjaan seperti pengemudi ojek daring menjadi salah satu opsi yang diambil para lulusan universitas daripada harus menganggur terlalu lama.
"Mereka bekerja misalnya jadi ojol, jadi Grab. Tidak ada salahnya karena juga income-nya di sana lumayan daripada menganggur," ujarnya Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Tingkat pengangguran di kalangan sarjana kini tercatat berada di atas rata-rata nasional, yang memicu kekhawatiran terkait efektivitas investasi pendidikan.
"Ya tingkat pengangguran sarjananya cukup tinggi sekarang di atas rata-rata sarjana sudah sekitar 8 persen," katanya Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Besarnya alokasi anggaran pendidikan dari APBN belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kemudahan lulusan dalam mendapatkan pekerjaan berkualitas.
"Pemerintah kan mengeluarkan dana 20 persen dari PBN untuk pendidikan. Kemudian kita didik mereka dari mulai SMA sampai sarjana, mereka tidak bisa kerja," ujarnya Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Pengembangan keterampilan tambahan atau soft knowledge menjadi krusial agar para lulusan bisa lebih adaptif terhadap dinamika pasar kerja.
"Nah ya jadi kita tidak hanya bersandar kepada bidang pendidikan kita tetapi juga kita perlu ditambahkan dengan soft knowledge yang lain," katanya Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Lulusan perguruan tinggi disarankan tidak terpaku pada satu profesi spesifik sesuai ijazah, melainkan berani mengeksplorasi potensi bisnis atau teknis lainnya.
"Kita harus mau mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan pasar kerja," ucap Noer, Pengamat Ketenagakerjaan.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman, menyebut pertumbuhan ekonomi nasional belum mampu menyajikan pekerjaan yang layak bagi lulusan S1.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5 persen belum mampu menciptakan quality jobs bagi sarjana," kata Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.
Faktor upah awal yang rendah di sektor formal juga ditengarai menjadi penyebab sarjana lebih memilih jalur wirausaha atau pekerjaan non-formal.
"Rendahnya upah entry level menjadi faktor kunci. Rata-rata upah buruh hanya sekitar Rp3,0\u20133,3 juta dengan kenaikan tahunan terbatas sekitar 1,7\u20131,9 persen, bahkan stagnan secara riil," ujarnya Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.
Kemudahan mendapatkan penghasilan secara cepat dan fleksibilitas waktu menjadi alasan rasional bagi lulusan baru untuk beralih jalur.
"Akibatnya, fenomena \u2018banting setir\u2019 ke sektor non-formal menjadi rasional. Banyak pekerjaan alternatif menawarkan pendapatan lebih cepat, fleksibilitas, dan peluang multi-income," kata Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.
Kisah Nadia Murti (30), lulusan pendidikan guru PAUD, menjadi representasi nyata dari perjuangan sarjana di sektor informal.
"Bukannya tidak bersyukur. Tetapi dengan gaji di bawah UMR saya sebagai guru (waktu itu) terkadang masih harus mengeluarkan modal sendiri untuk membuat media pembelajaran anak. Sehingga, gaji tidak cukup untuk kebutuhan hidup,\u201d katanya Nadia Murti, Pelaku Usaha.
Ia kini memilih menjalankan berbagai usaha mulai dari furnitur hingga peternakan ayam demi stabilitas ekonomi keluarga.
"Yang membuat saya banting setir ke bidang yang sekarang karena saya menikah dengan suami yang memiliki kesamaan visi, misi dan tujuan," kata Nadia Murti, Pelaku Usaha.
Meski pendapatan dari sektor mebel bersifat fluktuatif, ia tetap bertahan menjalankan lini usahanya saat ini.
\u201cKadang borongan sebulan dapat 13 juta atau 30 juta itu belum termasuk dua bidang usaha lainnya,\u201d katanya Nadia Murti, Pelaku Usaha.
Ketidakpastian ekonomi di sektor informal tetap menjadi tantangan tersendiri bagi Nadia dalam mengelola keuangannya.
\u201cTapi kalau mebel itu pemasukannya musiman. Jadi kadang ada pemasukannya kadang ya beberapa bulan tidak ada,\u201d tambahnya Nadia Murti, Pelaku Usaha.
Pengalaman serupa dialami Furqon Fauzi (38), sarjana Sastra Inggris yang sempat melamar ke 52 perusahaan namun tidak membuahkan hasil.
\u201cSejujurnya, saya tidak pernah berharap akan bisa dapat pekerjaan yang sesuai dengan bidang kuliah saya," kata Furqon Fauzi, Penjual Nasi Bebek.
Setelah terkena dampak pemutusan hubungan kerja dan gagal mendapatkan pekerjaan baru, Furqon sempat menjadi pengemudi ojek daring sebelum akhirnya berjualan nasi bebek.
\u201cSeingat saya ada sekitar 52 perusahaan yang saya lamar dan masukan CV. Namun tidak ada satu pun yang menerima saya," kata Furqon Fauzi, Penjual Nasi Bebek.
Melalui usaha kuliner kaki lima, Furqon mengaku lebih mensyukuri kondisi saat ini meskipun perjalanannya penuh rintangan.
\u201cBisa hidup dan bisa bertahan hingga detik ini saja saya sudah sangat bersyukur, tidak apa-apa belum mapan, tidak apa-apa belum bisa memenuhi segudang impian yang penting jangan menyerah,\u201d ujarnya Furqon Fauzi, Penjual Nasi Bebek.