Koreksi harga saham PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) dinilai lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar secara umum dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibandingkan dengan perubahan nilai intrinsik perusahaan pada Jumat (22/5/2026).
Dilansir dari Investasi, tekanan terhadap saham komoditas dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terkait rencana pembentukan Badan Ekspor Sumber Daya Alam. Kendati demikian, dampak kebijakan tersebut terhadap TOBA diperkirakan relatif terbatas karena adanya perubahan struktural pada pendapatan perseroan.
"Harga TOBA saat ini sudah terdiskon dan berada di bawah harga wajarnya karena terimbas penurunan IHSG secara keseluruhan," jelas Andhika Audrey, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas.
Andhika Audrey menilai struktur pendapatan TOBA saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Mayoritas pendapatan perseroan kini sudah bersumber dari segmen non-batubara, meskipun perubahan struktural tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi pasar saat ini.
"Pendapatan TOBA tidak terlalu terpengaruh karena saat ini mayoritas pendapatannya sudah berasal dari segmen non-batubara karena perubahan struktural belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi pasar," jelas Andhika Audrey, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas.
Investor disarankan untuk melihat TOBA sebagai perusahaan yang telah bertransformasi dari emiten batu bara menjadi perusahaan dengan portofolio bisnis yang lebih terdiversifikasi. Saat ini perseroan memiliki lini usaha baru mulai dari pengelolaan limbah, kendaraan listrik, hingga pengembangan energi terbarukan yang membuatnya lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas.
"Bisnis TOBA bukan lagi bertumpu pada batu bara semata. Perseroan sudah memiliki lini bisnis waste management, kendaraan listrik, dan energi terbarukan yang relatif lebih defensif," kata Andhika Audrey, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas.
Kinerja kuartal I-2026 menunjukkan segmen pengelolaan limbah menjadi kontributor terbesar pendapatan perseroan dengan nilai sekitar US$ 52 juta atau setara 60 persen dari total pendapatan. Bisnis pengelolaan limbah ini juga dinilai memberikan perlindungan terhadap risiko pelemahan mata uang rupiah.
"Pendapatan dari bisnis waste management dalam USD dan SGD sehingga dapat menjadi natural hedge terhadap tren depresiasi rupiah," ujar Andhika Audrey, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas.
Sebagian besar pendapatan dari segmen pengelolaan limbah dibukukan dalam mata uang dolar Amerika Serikat dan dolar Singapura seiring dengan langkah ekspansi regional yang dilakukan perusahaan. Dengan valuasi yang dinilai masih murah dan kontribusi bisnis non-batu bara yang terus meningkat, saham TOBA dinilai masih menarik dicermati untuk investasi jangka menengah hingga panjang.
"Pasar masih dalam tahap menyesuaikan persepsi terhadap profil bisnis TOBA yang baru. Ketika perubahan ini mulai diapresiasi penuh, kami melihat ada ruang untuk re-rating valuasi," tutup Andhika Audrey, Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas.