Saham MORA hingga ASPR Catat Lonjakan Harga di Atas 57 Persen

Saham MORA hingga ASPR Catat Lonjakan Harga di Atas 57 Persen
Foto: Ilustrasi Saham MORA hingga ASPR Catat Lonjakan Harga di Atas 57 Persen.

Sejumlah saham mencatatkan kenaikan harga yang signifikan sepanjang pekan ini. Dilansir dari Investortrust, saham PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) memimpin penguatan dalam daftar top gainers weekly setelah melonjak sebesar 59,24 persen dari posisi Rp 4.710 menjadi Rp 7.500.

Mengikuti di posisi kedua, saham ASPR mengalami penguatan sebesar 57,24 persen. Harga saham ini merangkak naik dari level Rp 290 hingga menyentuh Rp 456.

Kenaikan signifikan juga dibukukan oleh saham MEDS yang melonjak 51,95 persen dari Rp 77 menjadi Rp 117. Selanjutnya, saham GSMF turut menguat sebesar 41 persen dari level Rp 100 ke posisi Rp 141, sementara saham ABDA naik 39,15 persen dari Rp 2.580 menjadi Rp 3.590.

Performa positif lain ditunjukkan oleh saham MPOW yang mencatat kenaikan 37,04 persen dari Rp 108 ke Rp 148. Saham NIKL juga menguat 34,23 persen dari Rp 298 menjadi Rp 400. Sisa emiten dalam daftar ini diisi oleh saham CTTH yang menguat 32,89 persen, KAEF naik 32,85 persen, dan IRRA mengencang 32,12 persen.

Lonjakan barisan saham tersebut melesat jauh di atas pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG pekan ini terpantau hanya menguat tipis sebesar 12,59 poin atau 0,18 persen ke level 6.969.

Pergerakan indeks ke zona hijau ditopang oleh apresiasi harga dalam empat dari lima hari perdagangan. Sektor perbankan papan atas menjadi motor penggerak utama dalam laju penguatan tersebut.

Berdasarkan data resmi BEI, penguatan IHSG didorong oleh rapor hijau beberapa sektor. Sektor infrastruktur memimpin pertumbuhan sebesar 5 persen, diikuti sektor consumer non primer sebesar 2,10 persen, serta sektor keuangan yang naik 1,97 persen.

Sebaliknya, beberapa sektor justru mengalami penurunan tajam di atas 5 persen. Koreksi ini melanda sektor energi, material dasar, serta transportasi.

Meskipun indeks menguat tipis, investor asing terpantau masih melanjutkan aksi jual bersih atau net sell. Nilai penjualan bersih tersebut menembus Rp 2,43 triliun di pasar reguler.

Aksi lepas saham paling banyak melanda BMRI dengan nilai mencapai Rp 1,6 triliun. Posisi berikutnya ditempati oleh BBCA sebesar Rp 500,44 miliar dan BUMI senilai Rp 195,70 miliar.

IHSG sebelumnya sempat anjlok mendadak lebih dari 2,82 persen menuju level 6.969,39. Pelemahan terdalam dialami oleh saham di sektor material dasar yang merosot hingga 7,80 persen akibat munculnya isu terkait rencana kenaikan royalti komoditas seperti timah, nikel, dan emas.

Artikel terkait

Rekomendasi