Pasar saham China mencatatkan penguatan pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026. Melalui data yang dikutip dari Money, pergerakan positif ini terjadi di tengah bayang-bayang jalur pelemahan mingguan selama dua pekan berturut-turut.
Kondisi lesu sebelumnya dipicu oleh aksi ambil untung investor pada saham sektor teknologi. Namun, dinamika pasar berbalik arah menyusul rilis laporan keuangan Lenovo yang melampaui perkiraan para analis.
Indeks saham unggulan China CSI300 mencatatkan kenaikan sebesar 0,7 persen saat jeda perdagangan siang. Meski demikian, indeks ini masih diproyeksikan mengalami penurunan mingguan hampir 1 persen.
Penurunan tersebut menandai performa mingguan terburuk dalam kurun waktu hampir dua bulan terakhir. Di sisi lain, indeks Shanghai Composite turut terangkat 0,5 persen setelah sempat merosot tajam sehari sebelumnya.
Pergerakan positif juga menjalar hingga ke bursa Hong Kong, di mana indeks Hang Seng melesat 1,2 persen. Lonjakan performa di bursa ini dipimpin oleh saham teknologi, terutama setelah saham Lenovo melonjak hingga 16 persen.
Sepanjang tahun ini, pergerakan pasar saham China sangat dipengaruhi oleh optimisme investor terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sentimen positif ini menjadi benteng pertahanan pasar.
Tingginya antusiasme terhadap AI dinilai berhasil meredam kekhawatiran pelaku pasar terkait perlambatan ekonomi China secara global. Berdasarkan riset dari BNP Paribas, ekspektasi pendapatan korporasi di China dan Asia memang meningkat tajam.
Namun, pihak BNP Paribas menggarisbawahi bahwa pertumbuhan ini sangat bertumpu pada sektor teknologi.
ÔÇ£Ini, bagaimanapun, bukanlah cerita yang berbasis luas tetapi hampir seluruhnya didorong oleh siklus super teknologi,ÔÇØ tulis BNP Paribas dalam risetnya.
Lembaga keuangan tersebut turut memperingatkan bahwa reli yang bertumpu pada satu sektor berpotensi mendatangkan risiko baru di pasar regional.
ÔÇ£Dalam jangka pendek, itu tetap satu satunya cerita,ÔÇØ lanjut laporan tersebut.
Kondisi pergerakan ekonomi ini juga mendapat sorotan dari Goldman Sachs. Lembaga tersebut menilai ekonomi China saat ini sedang bergerak dalam dua arah yang bertolak belakang.
Sektor teknologi terpantau tumbuh dalam kecepatan tinggi. Sebaliknya, sektor industri konvensional atau ekonomi lama masih harus berhadapan dengan tekanan yang berat.
Tantangan dari Sektor Energi dan Konflik Geopolitik
Selain faktor internal, tekanan eksternal berupa konflik di Timur Tengah dan volatilitas harga energi mulai membayangi perekonomian Negeri Tirai Bambu tersebut.
ÔÇ£Konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung dan harga energi yang lebih tinggi telah berdampak negatif pada ekonomi China,ÔÇØ tulis Goldman Sachs.
Walakin, bank investasi asal Amerika Serikat tersebut melihat struktur ekonomi China masih memperlihatkan ketahanan yang cukup baik terhadap lonjakan harga minyak dunia.
ÔÇ£Ekonomi China sejauh ini lebih fleksibel dari yang diperkirakan dalam beradaptasi dengan harga minyak yang lebih tinggi,ÔÇØ lanjut mereka.
Investor kini disarankan untuk tetap memantau performa ekspor China yang menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Di samping itu, sinyal pemulihan mulai tampak pada sektor properti di kota-kota besar.
Lompatan Signifikan Saham Emiten Chip
Sektor teknologi secara umum langsung bangkit setelah mengalami koreksi yang cukup dalam pada perdagangan hari sebelumnya.
Indeks ChiNext di Shenzhen yang didominasi oleh perusahaan rintisan dan teknologi berhasil melonjak hingga 2 persen. Hasil serupa juga dibukukan oleh indeks elektronik CSI yang menguat 2 persen.
Kenaikan ini juga terasa di pasar saham Hong Kong, di mana indeks Hang Seng Tech merangkak naik 2 persen. Penguatan paling signifikan dicatatkan oleh indeks saham produsen chip yang melonjak hampir 4 persen.
Situasi ini menegaskan bahwa para pelaku pasar masih menaruh harapan besar pada sektor teknologi sebagai pilar utama bursa saham China, sekalipun tantangan ekonomi makro belum sepenuhnya mereda.