Saham BBCA Merosot ke Level Terendah Sejak Pandemi 2021

Saham BBCA Merosot ke Level Terendah Sejak Pandemi 2021
Foto: Ilustrasi Saham BBCA Merosot ke Level Terendah Sejak Pandemi 2021.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyentuh level terendah sejak masa pandemi 2021 setelah melemah 5,84 persen ke posisi Rp 6.050 pada penutupan pekan lalu, Senin (27/4/2026). Dilansir dari Detik Finance, tekanan eksternal memicu aksi jual bersih investor asing senilai Rp 2,1 triliun dalam sehari.

Kondisi pasar yang tidak menentu mengakibatkan pelemahan serupa pada bank besar lainnya. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi 2,81 persen ke level Rp 4.500, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 2,85 persen menjadi Rp 3.070 dengan pelepasan aset asing yang signifikan.

Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan menyebutkan bahwa para investor saat ini tengah menyesuaikan portofolio terhadap risiko makro Indonesia di tengah ketidakpastian global. Penurunan ini dinilai sebagai tekanan sektoral karena posisi bank sebagai indikator utama ekonomi nasional.

"Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi, ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA," ujar Jonathan Gunawan, Analis Trimegah Sekuritas.

Jonathan menjelaskan bahwa konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menjadi pemicu utama yang belum mereda. Hal ini berdampak pada tingginya harga energi yang menekan ekspektasi pertumbuhan global serta melemahkan nilai tukar.

"Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya bagi banyak perusahaan. Dampaknya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat," tambah Jonathan Gunawan, Analis Trimegah Sekuritas.

Sentimen negatif tambahan datang dari perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global dan review MSCI. Meskipun demikian, Jonathan menegaskan fundamental BBCA tetap kokoh melalui kebijakan pembagian dividen interim tiga kali setahun.

"Kalau kita lihat lebih dalam, fundamental BBCA saat ini masih solid. BBCA bahkan berupaya menjaga daya tarik bagi investor melalui kebijakan pembagian dividen interim sebanyak tiga kali dalam setahun," terang Jonathan Gunawan, Analis Trimegah Sekuritas.

Dari sisi kinerja keuangan, BBCA membukukan laba bersih sebesar Rp 14,7 triliun pada kuartal I-2026 atau tumbuh 4 persen secara tahunan. Pencapaian ini dinilai sejalan dengan ekspektasi pasar oleh analis BRI Danareksa Sekuritas.

"Laba BBCA tetap in-line dengan ekspektasi, dengan pendapatan non-bunga yang kuat mampu mengimbangi tekanan pada NIM," kata Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, Analis BRI Danareksa Sekuritas.

Sektor korporasi menjadi penopang pertumbuhan kredit sebesar 6 persen, meski pembiayaan konsumer masih menghadapi kendala. Kendati terdapat pelemahan pada kredit ritel, perbaikan kualitas aset di segmen wholesale menjaga profil risiko perusahaan tetap aman.

"Perbaikan kualitas aset di segmen wholesale mampu mengimbangi pelemahan kredit di segmen ritel, sehingga profil risiko secara keseluruhan masih terjaga," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.

Manajemen BBCA tetap optimistis dengan target pertumbuhan kredit 8-10 persen sepanjang tahun 2026. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 10.900 karena valuasi saat ini dianggap menarik.

"Valuasi saat ini mencerminkan tekanan pasar dan sudah berada di level yang relatif menarik, dengan downside yang dinilai terbatas," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.

Artikel terkait

Rekomendasi