Rupiah Terperosok ke Level 17.489 per Dolar AS Selasa Pagi

Rupiah Terperosok ke Level 17.489 per Dolar AS Selasa Pagi
Foto: Ilustrasi Rupiah Terperosok ke Level 17.489 per Dolar AS Selasa Pagi.

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi di pasar spot seiring meningkatnya ketidakpastian kondisi geopolitik global yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.

Data Bloomberg mencatat mata uang Garuda merosot 75 poin atau sekitar 0,43 persen ke posisi Rp 17.489 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Sebaliknya, indeks dolar AS terpantau menguat 0,15 persen ke level 98.106 sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Kondisi ini melanjutkan tren negatif dari penutupan perdagangan Senin sore (11/5/2026) yang berakhir di level Rp 17.414. Tekanan terhadap rupiah muncul di tengah kebuntuan dialog de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum membuahkan hasil positif.

Sentimen tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia dan kekhawatiran investor terhadap potensi bertahannya suku bunga tinggi untuk meredam inflasi. Di sisi lain, pasar mata uang Asia juga mengamati rencana kunjungan Donald Trump ke Tiongkok serta agenda Menteri Keuangan AS Scott Bessent di Jepang dan Korea Selatan.

Christopher Wong, ahli strategi mata uang di OCBC, memberikan analisis terkait sikap pasar terhadap ketegangan geopolitik tersebut. Menurut Wong, penolakan Trump atas tanggapan Iran terhadap usulan perdamaian telah menjaga kewaspadaan pasar dan menstabilkan posisi dolar.

"Namun, penguatan USD masih terkendali, menunjukkan bahwa pasar belum menganggap berita terbaru sebagai guncangan penghindaran risiko sepenuhnya," kata Wong, Ahli Strategi Mata Uang OCBC.

Wong menambahkan bahwa reaksi pasar yang lebih besar masih berpotensi terjadi di masa mendatang. Hal ini sangat bergantung pada perkembangan status diskusi diplomatik atau kemungkinan munculnya eskalasi militer baru dalam waktu dekat.

"Namun, penguatan USD masih terkendali, menunjukkan bahwa pasar belum menganggap berita terbaru sebagai guncangan penghindaran risiko sepenuhnya," kata Wong, Ahli Strategi Mata Uang OCBC.

Di kawasan regional, yen Jepang diperdagangkan pada level 157,30 per dolar AS sembari menunggu pernyataan otoritas keuangan terkait kebijakan moneter. Sementara itu, dolar Australia tercatat turun 0,14 persen ke level US$ 0,724 menjelang pengumuman anggaran federal mereka.

Mata uang utama lainnya juga bergerak variatif terhadap dolar AS pada sesi pagi ini. Euro terakhir diperdagangkan pada level US$ 1,1775, sedangkan poundsterling Inggris bertahan di posisi US$ 1,3602.

Artikel terkait

Rekomendasi