Rupiah Sentuh Level Terendah Rp17.500 per Dolar AS

Rupiah Sentuh Level Terendah Rp17.500 per Dolar AS
Foto: Ilustrasi Rupiah Sentuh Level Terendah Rp17.500 per Dolar AS.

Nilai tukar rupiah terperosok ke level terendah sepanjang sejarah di posisi Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (12/5/2026). Dilansir dari Ekonomi, pelemahan signifikan ini melampaui titik terlemah yang pernah tercatat selama puncak Krisis Keuangan Asia 1997ÔÇô1998.

Depresiasi rupiah tercatat mencapai sekitar 7% sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari lalu. Tekanan ini dipicu oleh buntunya perundingan damai AS-Iran yang melambungkan harga minyak dunia dan memperkuat permintaan dolar AS sebagai aset aman.

Analisis mengenai kerentanan posisi Indonesia dalam menghadapi guncangan global ini turut disampaikan oleh pengamat pasar keuangan. Kondisi cadangan energi domestik menjadi salah satu faktor yang disoroti oleh para ahli.

"Kerentanan Indonesia diperparah oleh cadangan minyak mentah yang relatif rendah, sebagian besar karena keterbatasan kapasitas penyimpanan," ujar Lloyd Chan, analis mata uang senior MUFG.

Kekhawatiran global terhadap inflasi yang persisten juga ikut memperkeruh suasana pasar keuangan internasional. Ketegangan geopolitik dipandang sebagai mesin utama yang menggerakkan kenaikan harga energi secara berkelanjutan.

"Ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas mendorong harga minyak lebih tinggi, memperkuat kekhawatiran atas tekanan inflasi yang persisten," kata Abdelaziz Albogdady, manajer riset pasar dan strategi fintech dari FXEM.

Di sisi lain, pergerakan dolar AS menunjukkan korelasi yang kuat dengan kinerja pasar modal global. Penguatan mata uang negeri Paman Sam ini cenderung terjadi saat pasar saham sedang mengalami tren negatif.

"Hari-hari baik bagi dolar pada umumnya bertepatan dengan hari-hari buruk bagi pasar saham belakangan ini," ujar Francesco Pesole, analis ING.

Pesole memproyeksikan adanya potensi tekanan lebih lanjut bagi mata uang negara berkembang jika data ekonomi AS menunjukkan angka yang tinggi. Kebijakan moneter ketat dari otoritas AS menjadi risiko yang diwaspadai pelaku pasar.

"Pesole menambahkan bahwa data inflasi AS yang akan dirilis dapat melampaui ekspektasi pasar, yang berpotensi mendorong Federal Reserve mempertimbangkan kenaikan suku bunga, skenario yang akan semakin mengangkat dolar," ujar Francesco Pesole, analis ING.

Meskipun kurs menembus angka psikologis baru, struktur ekonomi Indonesia saat ini dinilai lebih tangguh dibandingkan medio 1990-an. Penggunaan sistem kurs bebas dan cadangan devisa yang kuat di atas US$150 miliar menjadi bantalan utama bagi stabilitas moneter nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi