Konflik Timur Tengah Ancam Rupiah Melemah Hingga Rp 20.000

Konflik Timur Tengah Ancam Rupiah Melemah Hingga Rp 20.000
Foto: Ilustrasi Konflik Timur Tengah Ancam Rupiah Melemah Hingga Rp 20.000.

Nilai tukar rupiah diprediksi berpotensi terus mengalami pelemahan hingga menembus level Rp 18.000 sampai Rp 20.000 per dollar AS pada Kamis (7/5/2026). Dilansir dari Money, kondisi ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas dan menekan mata uang negara berkembang.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tekanan saat ini didominasi oleh faktor eksternal, khususnya lonjakan harga minyak mentah. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di wilayah Selat Hormuz serta Laut Oman menjadi faktor utama yang mengganggu jalur perdagangan energi internasional.

"Pasti faktor global yang memengaruhi. Salah satunya gejolak di Timur Tengah, terutama di Selat Hormuz antara Iran dan Amerika," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Situasi tersebut kian pelik karena adanya pemblokiran wilayah perairan oleh kedua negara yang berseteru. Akibat gangguan distribusi ini, harga minyak dunia melambung tinggi dan secara otomatis memperkuat posisi dollar AS serta memicu inflasi global.

"Kenapa mengalami pelemahan? Karena Indonesia itu impor minyak itu 1,5 juta barrel per hari. Ya, jadi total kebutuhan energi di Indonesia itu 2,1 juta barrel. Nah, Indonesia itu hanya produksi 600.000 barrel per hari," paparnya Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Ibrahim merinci bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor energi sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhan domestik. Hal ini membuat neraca transaksi berjalan terbebani, terutama saat asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sudah tidak sesuai dengan realitas pasar.

"Sehingga pemerintah tekor. Nah, dengan tekornya anggaran ini membuat neraca berjalan bermasalah dan mengakibatkan defisit anggaran," lanjut Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Defisit anggaran yang mendekati batas tiga persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menciptakan kekhawatiran di pasar keuangan. Saat ini, harga minyak dunia telah mencapai kisaran 116 dollar AS hingga 120 dollar AS per barrel, jauh melampaui asumsi APBN sebesar 70 dollar AS per barrel.

"Nah, ketakutan defisit anggaran mendekati 3 persen inilah yang akhirnya membuat rupiah mengalami pelemahan," ucap Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Investor juga dikabarkan masih skeptis terhadap upaya diplomasi yang diwacanakan oleh pemerintah Amerika Serikat. Ibrahim menegaskan bahwa selama stabilitas di Timur Tengah belum tercapai, mata uang Garuda akan tetap berada dalam tren penurunan yang tajam.

"Nah terus apakah rupiah bisa tembus di level Rp 16.000 sampai Rp 20.000? Bisa, bisa aja. Kalau di Timur Tengah ini terus bergejolak," lanjut Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Dampak dari pelemahan nilai tukar dan mahalnya energi diperkirakan akan segera merembet ke sektor riil. Kenaikan harga barang industri seperti elektronik, pupuk, hingga bahan pangan seperti kedelai dan jagung mulai membayangi daya beli masyarakat luas.

"Transportasi juga akan naik. Ini yang akhirnya berdampak terhadap daya beli masyarakat," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Sektor manufaktur dan industri padat karya kini menghadapi ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat biaya produksi yang membengkak. Di sisi lain, pemerintah diperkirakan tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi guna mencegah gejolak sosial meskipun langkah ini akan memperberat beban subsidi energi dalam APBN.

Artikel terkait

Rekomendasi