Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami kemerosotan tajam hingga menyentuh level Rp 17.525 pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Penurunan nilai mata uang ini dipicu oleh buntu diplomasi antara AS dan Iran yang mengganggu stabilitas pasar mata uang negara berkembang di Asia.
Dilansir dari Investor Daily, posisi rupiah saat ini merupakan titik terendah sepanjang sejarah setelah kehilangan nilai hampir 7 persen sejak akhir Februari 2026. Pelemahan ini beriringan dengan melonjaknya harga minyak dunia akibat ancaman blokade di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi global.
Analis mata uang senior dari MUFG, Lloyd Chan, memberikan pandangannya mengenai kerentanan posisi ekonomi Indonesia dalam menghadapi gangguan energi tersebut. Kondisi ini dipicu oleh keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak mentah nasional.
"Kerentanan Indonesia diperparah oleh rendahnya cadangan minyak mentah akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan," ungkap Chan seperti dikutip Reuters, Selasa (12/5/2026).
Sektor pasar modal juga terdampak signifikan dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 2,1 persen yang menyeret emiten besar seperti Barito Renewables dan Chandra Asri Pacific. Investor kini dilaporkan mulai mewaspadai isu transparansi pasar modal serta independensi bank sentral di tengah tekanan arus modal keluar.
Situasi ini semakin menekan pasar keuangan domestik lantaran adanya tinjauan indeks MSCI yang berpotensi menurunkan status pasar Indonesia. Otoritas jasa keuangan menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi penghapusan sejumlah perusahaan dari indeks global tersebut.
Kondisi serupa terjadi pada Rupee India yang mencatat rekor terendah di angka 95,738 per dolar AS, sementara bursa Korea Selatan anjlok 2,3 persen akibat aksi jual saham teknologi. Sebaliknya, bursa Malaysia justru menguat tipis 0,3 persen menjelang rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama.