Rupiah Tembus Rp 17.400 Picu Kenaikan Harga Pangan dan Barang Impor

Rupiah Tembus Rp 17.400 Picu Kenaikan Harga Pangan dan Barang Impor
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Rp 17.400 Picu Kenaikan Harga Pangan dan Barang Impor.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) merosot hingga melewati level psikologis Rp 17.400 pada awal perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Pelemahan mata uang Garuda ini, seperti dilansir dari Money, berdampak langsung pada kenaikan harga berbagai komoditas di pasar domestik.

Kondisi ini kian memburuk karena terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah global. Pada penutupan perdagangan Senin waktu AS, harga minyak dunia melambung hingga 6 persen akibat eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah.

Ketegangan tersebut meningkat setelah Iran memperluas serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk dan membakar pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab (UEA). Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 6,27 dollar AS atau 5,8 persen menjadi 114,44 dollar AS per barrel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami kenaikan sebesar 4,48 dollar AS atau 4,4 persen. Kenaikan tersebut membuat harga minyak WTI kini bertengger di level 106,42 dollar AS per barrel.

Ibrahim Assuaibi, seorang Analis Mata Uang dan Komoditas, menjelaskan bahwa perpaduan harga minyak yang tinggi dan rupiah yang lemah mengerek harga komoditas di Indonesia. Terutama bagi produk-produk yang mengandalkan impor dari luar negeri.

Produk elektronik dan pupuk menjadi contoh barang yang harganya langsung melonjak saat ini. Tidak hanya itu, komoditas pangan esensial seperti gandum serta kedelai juga ikut merangkak naik, yang berpotensi menambah beban biaya hidup masyarakat.

"Kita lihat bahwa hari ini harga-harga semua mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kita melihat bahwa barang-barang impor, elektronik, pupuk, kemudian komoditas, kacang kedelai, kemudian gandum, ya ini pun juga mengalami kenaikan," ujar Ibrahim.

Kenaikan harga juga menyasar sektor plastik yang merupakan komponen vital bagi industri manufaktur dan kemasan. Lonjakan harga bahan baku ini diprediksi akan memberikan tekanan tambahan bagi stabilitas perekonomian nasional secara luas.

Publik kini sedang menantikan data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 di tengah kekhawatiran melemahnya kondisi fiskal. Cadangan devisa yang menyusut menjadi faktor tambahan yang membuat pasar merasa cemas terhadap ketahanan ekonomi dalam negeri.

Ibrahim menekankan pentingnya kewaspadaan dalam mencermati situasi ini. Hal tersebut akan menjadi indikator apakah target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang dipatok di atas 5,5 persen dapat tercapai atau justru berada di bawah ekspektasi.

"Ini harus hati-hati, apakah sesuai dengan target pemerintah di atas 5,5 persen atau di bawah 5,5 persen," papar Ibrahim.

Guna menjaga stabilitas fiskal, Ibrahim menyarankan pemerintah segera mencari sumber pendanaan baru. Ia juga mengusulkan langkah efisiensi dengan menunda sementara program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

"Nah ini yang harus diperhatikan sehingga pemerintah saat ini tugas pemerintah untuk mendapatkan "uang segar", selain memindahkan dana-dana, menghentikan sementara untuk MBG, kemudian Koperasi Merah Putih juga dihentikan sementara," kata Ibrahim.

Tekanan berat pada rupiah saat ini disebabkan oleh konflik di Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memanas. Eskalasi militer di jalur utama perdagangan energi dunia tersebut memicu ketidakpastian pasar finansial secara global.

Selain itu, serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak di Rusia turut memperburuk pasokan energi. Insiden tersebut menyebabkan produksi minyak Rusia menyusut sekitar 10 persen, yang secara otomatis mendorong harga Brent dan WTI semakin mahal.

Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi global yang berkelanjutan. Bank sentral di berbagai negara diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan kembali jika harga minyak tidak segera stabil dalam waktu dekat.

Ibrahim memberikan peringatan bahwa jika konflik Timur Tengah berlanjut dalam jangka panjang, harga minyak dunia bisa mencapai 200 hingga 250 dollar AS per barrel. Hal ini akan meningkatkan volatilitas keuangan global secara ekstrem.

Indonesia sendiri sangat terdampak karena ketergantungan pada impor energi yang mencapai 1,5 juta barrel per hari. Lonjakan harga minyak dunia memaksa Indonesia menggunakan lebih banyak dollar AS, yang pada akhirnya memperlemah nilai tukar rupiah.

Artikel terkait

Rekomendasi