Kinerja mata uang rupiah terus mengalami tekanan signifikan sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Tren pelemahan ini berlanjut hingga bulan April dengan posisi nilai tukar yang berada di atas level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari Kompas, kondisi fluktuasi ini diprediksi akan mempersempit ruang gerak Bank Indonesia (BI) dalam melonggarkan kebijakan moneter. Padahal, sektor ekonomi nasional saat ini dinilai membutuhkan stimulus melalui penurunan suku bunga acuan.
Data menunjukkan bahwa sejak awal tahun hingga Senin ini, nilai rupiah telah tergerus sebesar 2,81 persen. Angka tersebut menempatkan rupiah sebagai mata uang terlemah kedua di kawasan regional dalam periode berjalan.
Performa mata uang Garuda tercatat hanya lebih baik jika dibandingkan dengan rupee India yang mengalami pelemahan sebesar 3,28 persen. Di sisi lain, sejumlah mata uang tetangga seperti ringgit Malaysia, yuan Tiongkok, dan dolar Singapura justru mencatatkan penguatan.
Sejumlah ekonom memberikan analisis bahwa kerentanan posisi rupiah saat ini dipicu oleh dominasi penguatan dolar AS di pasar global. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia yang kembali terjadi turut memberikan tekanan tambahan terhadap stabilitas moneter dalam negeri.
Situasi pelik ini membuat Bank Indonesia selaku otoritas moneter tertinggi diperkirakan tidak memiliki banyak opsi kebijakan. Keterbatasan pilihan tersebut berkaitan erat dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar global.
Menyikapi perkembangan tersebut, para pengamat ekonomi memproyeksikan langkah yang akan diambil otoritas dalam waktu dekat. Bank Indonesia diprediksi akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan dalam pertemuan mendatang.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu pekan ini diperkirakan akan menghasilkan keputusan untuk menahan suku bunga di level 4,75 persen. Langkah ini diambil guna meredam volatilitas rupiah dan menjaga keseimbangan ekonomi makro.