Rupiah Stabil pada Level Rp 16.632 per Dolar AS

Rupiah Stabil pada Level Rp 16.632 per Dolar AS
Foto: Ilustrasi Rupiah Stabil pada Level Rp 16.632 per Dolar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat bertahan stabil pada penutupan perdagangan Rabu (3/12/2025) di level Rp 16.632. Sebagaimana dilansir dari Investortrust, pergerakan mata uang garuda relatif terjaga dalam kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) meski berada di bawah bayang-bayang tekanan eksternal.

Katalis utama yang mendukung stabilitas rupiah adalah pelemahan indeks dolar AS di tengah kuatnya ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat. Probabilitas pemangkasan suku bunga oleh The Fed diperkirakan mencapai 90 persen pada pertemuan yang dijadwalkan tanggal 9 hingga 10 Desember 2025.

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa data ekonomi Amerika Serikat yang tidak sesuai ekspektasi menjadi pendorong utama munculnya spekulasi di pasar keuangan global.

"Data ekonomi AS yang melemah memperkuat spekulasi pemangkasan suku bunga," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Komoditas dan Mata Uang.

Pasar saat ini tengah memantau rilis laporan ketenagakerjaan sektor swasta edisi November 2025 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) untuk melihat arah kebijakan lebih lanjut. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh proses transisi kepemimpinan The Fed, dengan ekspektasi bahwa pengganti Jerome Powell akan tetap mengadopsi kebijakan suku bunga rendah.

Pada lingkup domestik, Bank Indonesia (BI) diprediksi masih memiliki ruang untuk menurunkan BI Rate hingga 50 bps guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Meski telah dilakukan penurunan total sebesar 125 bps, dampak tersebut dinilai belum merespons secara maksimal pada penurunan suku bunga kredit di sektor perbankan maupun imbal hasil obligasi.

Kondisi penyaluran kredit nasional secara umum pun dilaporkan masih berada di bawah rata-rata historis jika dibandingkan dengan periode sebelum pandemi. Terkait situasi ini, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memberikan saran agar otoritas moneter tetap waspada dalam mengambil kebijakan strategis.

OECD menekankan pentingnya penggunaan data yang akurat bagi BI untuk mempertahankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar. Langkah ini krusial agar pelonggaran moneter tidak mengganggu ketahanan rupiah terhadap guncangan pasar luar negeri.

Artikel terkait

Rekomendasi