Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) merosot tajam hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada Rabu, 15 April 2026. Data Trading Economics menunjukkan posisi rupiah melemah ke angka Rp17.156 per dollar AS, melampaui titik terlemah yang pernah tercatat sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Kondisi depresiasi ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan performa terburuk di Asia Tenggara dibandingkan ringgit Malaysia, baht Thailand, dan dong Vietnam. Hingga periode Maret 2026, rupiah tercatat melemah 5,5 persen dari posisi puncaknya dalam setahun terakhir, sementara ringgit hanya turun 4,1 persen dan dong Vietnam 2,40 persen.
Para ahli menilai posisi rupiah saat ini sudah berada di bawah nilai wajar atau undervalued karena tidak lagi mencerminkan fundamental ekonomi nasional. Penurunan ekstrem ini dipicu oleh pembengkakan premi risiko yang dipengaruhi oleh persepsi negatif terhadap kedisiplinan fiskal negara.
Kekhawatiran pasar diperkuat oleh kenaikan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) Indonesia yang kini mencapai 40,46 persen. Selain itu, Debt Service Ratio (DSR) atau kemampuan membayar utang melonjak ke angka 47,67 persen, jauh melampaui batas aman internasional sebesar 20 persen.
Lembaga pemeringkat MoodyÔÇÖs dan Fitch Rating masih mempertahankan status investment grade Indonesia pada level Baa2, namun mereka telah menurunkan prospek utang pemerintah dari stabil menjadi negatif. Angka Country Risk Premium Indonesia sebesar 2,46 tercatat lebih tinggi daripada Malaysia yang berada di level 1,55.
Guna mengatasi ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, terdapat beberapa rekomendasi kebijakan bagi pemerintah. Salah satunya adalah penegasan komitmen presiden terkait disiplin anggaran dan kemungkinan penerapan kontrol modal oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas moneter sesuai prinsip impossible trinity.
"untuk menurunkan premi risiko perekonomian, diperlukan kepastian kebijakan, dibutuhkan monetary policy rule dan stabilitas moneter. Ingat, premi risiko tinggi sering kali disebabkan oleh perubahan kebijakan pemerintah yang tidak terduga." kata Milton Friedman, Ekonom.
Faktor lain yang memberikan tekanan adalah rasio defisit fiskal terhadap GDP yang mulai mendekati ambang batas legal sebesar 3,0 persen. Kondisi ini membuat investor global semakin waspada terhadap potensi risiko gagal bayar yang tercermin pada kenaikan angka Credit Default Swap (CDS) Indonesia.