Rupiah Tembus Rekor Terendah Rp17.308 Per Dolar AS Akibat Konflik Global

Rupiah Tembus Rekor Terendah Rp17.308 Per Dolar AS Akibat Konflik Global
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Rekor Terendah Rp17.308 Per Dolar AS Akibat Konflik Global.

Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah setelah menyentuh angka Rp17.308 per dolar AS pada pekan lalu. Dilansir dari Suara, performa mata uang Garuda ini dinilai lebih buruk dibandingkan masa krisis moneter 1998 silam.

Anjloknya nilai tukar rupiah ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Blokade di jalur distribusi minyak Selat Hormuz, Teluk Persia, menjadi faktor utama yang menekan perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia.

Meskipun kondisi ini mengkhawatirkan, pemerintah mengeklaim bahwa posisi rupiah saat ini tidak sejalan dengan fundamental ekonomi domestik. Otoritas terkait menegaskan bahwa struktur ekonomi dalam negeri sebenarnya masih berada dalam kondisi yang kokoh.

Penurunan nilai rupiah sejatinya telah terdeteksi sejak akhir tahun lalu. Transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan, dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa, menjadi titik awal mata uang domestik mulai kehilangan nilainya.

Tekanan terhadap rupiah semakin menguat pada Januari 2026 setelah DPR menyetujui penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Langkah ini dibaca pasar sebagai indikasi menurunnya tingkat kepercayaan terhadap bank sentral.

Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menjelaskan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mendorong kenaikan harga energi dunia.

"Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven," kata Muhammad Amru Syifa.

Sutopo Widodo, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, menambahkan bahwa blokade Selat Hormuz memicu inflasi global yang memperkuat posisi dolar AS. Di saat yang sama, ketergantungan Indonesia pada impor energi menyebabkan arus modal keluar semakin deras.

Beban Subsidi dan Tekanan Fiskal

Mantan Gubernur Bank Indonesia periode 2010-2013, Darmin Nasution, menyoroti kebijakan pemerintah yang menahan harga BBM bersubsidi. Menurutnya, keputusan tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar.

"Artinya ya Anda (pemerintah) membuat harga BBM di dalam negeri itu tetap tidak naik, misalnya, ya itu dia akan keluar tekanannya di tempat lain (nilai tukar rupiah)," kata Darmin Nasution.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyesalkan pelemahan ini dan menyebutnya sebagai dampak dari sentimen pasar serta faktor global. Ia menilai persepsi publik yang negatif menciptakan gangguan yang tidak menggambarkan kondisi ekonomi sebenarnya.

"Terus ini kan juga terjadi noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan," kata Purbaya Yudhi Sadewa.

Langkah Stabilisasi Bank Indonesia

Menghadapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) telah mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen demi menjaga stabilitas. BI juga menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap menjadi 10 juta dolar AS.

Ekonom Ryan Kiryanto menyarankan adanya sinergi antarotoritas untuk memperkuat struktur ekonomi. Ia mendorong perbankan mengonversi pinjaman valas debitur ke rupiah dan meningkatkan penggunaan bahan baku substitusi impor di industri strategis.

M. Rizal Taufikurahman dari Indef mengingatkan agar intervensi BI dilakukan secara selektif. Ia menekankan adanya risiko penggerusan cadangan devisa jika stabilisasi rupiah hanya mengandalkan intervensi pasar secara berkelanjutan.

"Artinya, stabilisasi rupiah harus selektif dan tidak bisa hanya mengandalkan intervensi berkelanjutan," kata M. Rizal Taufikurahman.

Artikel terkait

Rekomendasi