Rupiah Menguat ke Rp17.653 Setelah Prabowo Sampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027

Rupiah Menguat ke Rp17.653 Setelah Prabowo Sampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027
Foto: Ilustrasi Rupiah Menguat ke Rp17.653 Setelah Prabowo Sampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027.

Nilai tukar rupiah ditutup menguat 52 poin ke level Rp17.653 per dolar AS pada perdagangan Rabu (20/5), setelah pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.

Apresiasi mata uang garuda tersebut terjadi pascapidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI, seperti dilansir dari Media Indonesia. Kebijakan fiskal teranyar ini direspons positif oleh pasar modal, meski rupiah sempat melemah ke posisi Rp17.653 per dolar AS sebelum akhirnya berbalik menguat di penghujung perdagangan.

Pemerintah menetapkan asumsi makro 2027 dengan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen serta inflasi pada level 1,5 persen sampai 3,5 persen. Target nilai tukar rupiah dipatok pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS, didampingi suku bunga SBN 10 tahun sebesar 6,5 persen hingga 7,3 persen, harga minyak mentah US$70-US$90 per barel, serta target defisit APBN di level 1,8 persen hingga 2,4 persen terhadap PDB.

Penguatan mata uang domestik ini juga didorong oleh langkah moneter Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Keputusan dalam Rapat Dewan Gubernur tersebut diambil demi menjaga stabilitas nilai tukar dari dampak memburuknya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memberikan proyeksi mengenai pergerakan nilai tukar rupiah di pasar yang diperkirakan masih akan mengalami fluktuasi tajam.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 52 poin, setelah sebelumnya sempat melemah 25 poin menjadi Rp17.653 per dolar AS," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Pasar Uang dan Komoditas.

Kondisi eksternal yang dipengaruhi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran turut menjadi perhatian besar bagi para pelaku pasar komoditas global. Konflik berkepanjangan ini berisiko mengganggu jalur perdagangan energi dunia melalui penutupan akses logistik maritim yang vital.

"Pasar tetap waspada terhadap dampak inflasi dari perang Iran dalam beberapa minggu terakhir," kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Pasar Uang dan Komoditas.

Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah tersebut diketahui telah menyebabkan penutupan efektif pada Selat Hormuz. Jalur pelayaran internasional ini sangat krusial karena menjadi rute distribusi bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi