Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami penguatan sebesar 0,31 persen hingga mencapai posisi Rp 17.333 per dollar AS pada penutupan perdagangan Kamis (7/5/2026). Dilansir dari Money, apresiasi mata uang Garuda ini dipicu oleh munculnya harapan akan berakhirnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Optimisme pasar muncul setelah Iran mengumumkan pada Rabu (6/5/2026) bahwa mereka sedang meninjau proposal perdamaian dari Amerika Serikat yang berpotensi mengakhiri konflik secara resmi. Meski demikian, sejumlah isu krusial seperti penghentian program nuklir Iran dan pembukaan Selat Hormuz masih menjadi ganjalan utama.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan mata uang negara berkembang sempat tertahan akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump. Trump menilai pertemuan tatap muka dengan Teheran masih terlalu dini untuk dilakukan saat ini.
ÔÇ£Optimisme atas kemungkinan berakhirnya perang di Timur Tengah. Namun, mereka mengurangi kerugian setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa terlalu dini untuk pembicaraan tatap muka dengan Teheran dan seorang anggota parlemen senior Iran mengatakan bahwa proposal AS lebih merupakan daftar keinginan daripada kenyataan,ÔÇØ ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Sentimen global lainnya datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang segera dirilis, termasuk laporan nonfarm payrolls periode April pada Jumat (8/5/2026). Data tersebut diprediksi akan menjadi acuan bagi kebijakan suku bunga The Fed di masa mendatang.
Di sisi domestik, pergerakan nilai tukar masih dibayangi oleh tekanan fiskal akibat lonjakan harga energi global yang memicu kekhawatiran penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah dinilai harus berhati-hati mengingat potensi lonjakan subsidi energi jika harga minyak Brent bertahan di level 120 dollar AS per barrel.
Guna menghadapi keterbatasan ruang fiskal, percepatan deregulasi dan penguatan hilirisasi industri dipandang perlu untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku energi. Langkah ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas inflasi nasional di tengah ketidakpastian harga minyak dunia.