Nilai tukar rupiah tercatat menguat 0,10 persen atau 18 poin ke posisi Rp17.211 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (27/4/2026). Dilansir dari Market, kenaikan mata uang Garuda ini terjadi bersamaan dengan indeks dolar AS yang melemah 0,17 persen menuju level 98,36.
Meskipun menguat hari ini, mata uang domestik diprediksi akan mengalami tekanan pada esok hari. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif mengikuti dinamika pasar global dan kondisi ekonomi dalam negeri.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.210 sampai Rp17.260 per dolar AS," ujar Ibrahim, Senin (27/4/2026).
Sentimen global utama dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memengaruhi stabilitas pasokan energi. Ibrahim menjelaskan bahwa pelaku pasar tengah menimbang tawaran dialog damai untuk meredakan gangguan di kawasan konflik tersebut.
"Iran dilaporkan telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Dalam usulan tersebut, Teheran menawarkan untuk menunda negosiasi nuklir demi fokus pada penyelesaian konflik," kata Ibrahim.
Situasi ini menyusul kekhawatiran pasar terhadap potensi peningkatan kekuatan militer di Timur Tengah. Eskalasi tersebut sebelumnya sempat memuncak setelah beredarnya rekaman operasi pasukan komando Iran pada sebuah kapal kargo di Selat Hormuz.
Dari sisi domestik, pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi oleh penilaian lembaga pemeringkat kredit internasional, Moody's. Lembaga tersebut mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level Baa2, namun melakukan revisi pada prospek peringkat tersebut.
Langkah Moody's yang mengubah outlook dari stabil menjadi negatif mendapat perhatian serius dari pemerintah. Ibrahim mencatat bahwa otoritas terkait berkomitmen untuk memitigasi risiko tersebut dengan mempercepat pemulihan ekonomi nasional.