Rupiah Menguat ke Rp16.886 per Dolar AS pada 26 Maret 2026

Rupiah Menguat ke Rp16.886 per Dolar AS pada 26 Maret 2026
Foto: Ilustrasi Rupiah Menguat ke Rp16.886 per Dolar AS pada 26 Maret 2026.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026. Seperti diberitakan oleh Investortrust, data Bloomberg pada pukul 09.02 WIB menunjukkan mata uang garuda menguat sebesar 0,15 persen ke posisi Rp16.886 per dolar AS.

Apresiasi mata uang lokal ini terjadi di kala beberapa mata uang negara mitra dagang Indonesia justru mengalami tekanan. Yen Jepang terpantau melemah 0,01 persen, yuan China turun 0,04 persen, dan rupee India terkoreksi sebesar 0,11 persen.

Tren pelemahan di kawasan Asia juga menimpa won Korea Selatan yang merosot 0,25 persen. Selain itu, dolar Singapura melemah sebesar 0,01 persen, yang kemudian diikuti oleh penurunan mata uang bath Thailand sebesar 0,20 persen.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan imbal hasil UST tenor 10 tahun turun 2,77 bps ke 4,33%, seiring investor terus memantau perkembangan di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait upaya mengakhiri perang Iran.

Pihak Gedung Putih mengonfirmasi bahwa proses diskusi antarnegara masih terus berjalan hingga saat ini. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah mengirimkan proposal berisi 15 poin kepada Iran lewat perantara Pakistan demi menyudahi konflik.

Pihak berwenang tertinggi di Iran dilaporkan sedang mengkaji draf rencana dari Washington tersebut. Kendati demikian, Teheran memberikan sinyal enggan membuka jalur dialog langsung dengan pihak AS.

Pemerintah Iran menyatakan bakal menolak penawaran gencatan senjata yang diusulkan oleh AS. Sebagai gantinya, mereka mengajukan proposal tandingan sebanyak lima poin yang mencakupi hak kendali kedaulatan atas Selat Hormuz.

Dampak ke Harga Minyak Mentah Global

Di sisi lain, Donald Trump menyatakan bahwa Washington tengah menjalin negosiasi dengan Teheran. Ia mengisyaratkan adanya peluang bagi Iran untuk menyepakati perdamaian, meskipun klaim perundingan langsung tersebut dibantah oleh otoritas Iran.

Trump juga mengaku telah membatalkan rencana perintah serangan terhadap fasilitas energi Iran. Keputusan tersebut diambil dengan dasar bahwa kedua belah pihak saat ini sedang berada dalam proses negosiasi.

Respons pasar terhadap situasi tersebut membuat harga minyak dunia langsung merosot sekitar 6 persen. Penurunan harga komoditas ini memberikan sedikit kelonggaran terhadap kecemasan akan munculnya kembali lonjakan inflasi global.

Merujuk data dari Investing, harga minyak mentah jenis Brent kini berada di tingkat US$91,4 per barel. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 5,19 persen jika dikomparasikan dengan posisi harga minyak mentah pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, para pelaku pasar di bursa global kini mulai memangkas ekspektasi mereka terhadap rencana pemangkasan suku bunga acuan oleh Federal Reserve. Investor memproyeksikan tidak akan ada penurunan suku bunga bank sentral AS dalam waktu dekat.

Artikel terkait

Rekomendasi