Rupiah Menguat ke Level Rp 17.387 Per Dollar AS

Rupiah Menguat ke Level Rp 17.387 Per Dollar AS
Foto: Ilustrasi Rupiah Menguat ke Level Rp 17.387 Per Dollar AS.

Nilai tukar mata uang rupiah mengalami penguatan di pasar spot pada Rabu (6/5/2026) dengan apresiasi sebesar 36,50 poin atau 0,21 persen terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Dilansir dari Money, posisi mata uang Garuda ditutup pada level Rp 17.387 per dollar AS setelah sempat menyentuh angka Rp 17.424 pada penutupan sebelumnya.

Kenaikan nilai tukar ini terjadi seiring dengan respon pasar terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai perkembangan situasi geopolitik. Trump mengisyaratkan adanya peluang untuk mencapai kesepakatan damai guna mengakhiri ketegangan bersenjata dengan Iran.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa sentimen positif global ini menjadi motor utama pergerakan kurs. Meskipun demikian, pihak Iran dilaporkan belum memberikan respon resmi karena pernyataan tersebut dirilis saat dini hari waktu setempat.

"Pasar merespon positif terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan kesepakatan damai dapat tercapai untuk mengakhiri perang dengan Iran," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Selain wacana perdamaian, Presiden Trump mengumumkan penghentian sementara operasional pengawalan kapal di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya negosiasi. Jalur strategis ini memegang peranan krusial bagi distribusi energi global karena mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Meski terdapat pelonggaran di jalur pelayaran, Angkatan Laut Amerika Serikat tetap menjalankan blokade pada pelabuhan-pelabuhan milik Iran. Gangguan pada stabilitas jalur ini telah berlangsung sejak Februari 2026 yang ditandai dengan berbagai insiden militer terhadap armada Iran.

Dari sisi domestik, kondisi ekonomi Indonesia turut memberikan pengaruh terhadap pergerakan nilai tukar melalui laporan pertumbuhan produk domestik bruto. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 tercatat mencapai 5,61 persen atau mengalami percepatan jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Namun, angka pertumbuhan yang positif belum sepenuhnya mampu menahan arus keluar dana asing dari pasar modal dalam negeri. Investor dilaporkan masih memiliki kekhawatiran terhadap kondisi ketidakpastian global maupun dinamika ekonomi domestik.

Pemerintah berencana memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia dalam menjaga likuiditas pasar melalui kelanjutan program stimulus. Selain itu, penyiapan paket stimulus tambahan sedang dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan pasar serta mendorong aktivitas ekonomi nasional.

Di sisi lain, terdapat tantangan pada tingkat konsumsi masyarakat yang tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia. Pada Maret 2026, IKK tercatat sebesar 122,9 poin, mengalami penurunan dibandingkan posisi Januari 2026 yang sempat menyentuh 127,0 poin.

Artikel terkait

Rekomendasi