Rupiah Menguat ke Level Rp 17.229 Per Dollar AS

Rupiah Menguat ke Level Rp 17.229 Per Dollar AS
Foto: Ilustrasi Rupiah Menguat ke Level Rp 17.229 Per Dollar AS.

Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami penguatan sebesar 57 poin atau 0,33 persen ke posisi Rp 17.229 per dollar AS pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026). Pergerakan mata uang Garuda ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran.

Dilansir dari Money, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga tercatat menguat ke posisi Rp 17.278 per dollar AS dibandingkan hari sebelumnya di level Rp 17.308. Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh laporan mundurnya negosiator utama Teheran dalam pembicaraan damai yang dimediasi oleh Pakistan.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan pihaknya tidak ingin terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran terkait isu nuklir. Trump mengklaim militer Iran dalam kondisi kacau akibat tekanan Amerika Serikat.

"Trump juga mengulangi klaimnya bahwa AS telah melumpuhkan kemampuan militer Iran, dan bahwa negara itu dalam keadaan kacau. Komentarnya meningkatkan kekhawatiran atas konflik AS-Iran yang berkepanjangan, yang dapat menyebabkan pasokan minyak melalui Timur Tengah terhenti," ujar Ibrahim, Analis mata uang dan komoditas.

Kekhawatiran pasar meningkat setelah adanya laporan bahwa Washington memerintahkan Angkatan Laut untuk menindak kapal Iran di Selat Hormuz. Meski terdapat kabar gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga minggu, hal tersebut dinilai belum mampu meredakan kecemasan investor global sepenuhnya.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, Bank Indonesia (BI) melakukan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. BI berupaya mengoptimalkan intervensi pada beberapa pasar keuangan guna memperkuat pertahanan rupiah.

"Intervensi dilakukan secara simultan di pasar offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot, serta domestic non-deliverable forward (DNDF)," sebut Ibrahim, Analis mata uang dan komoditas.

Otoritas moneter juga mulai memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional sebagai strategi penguatan jangka panjang. Salah satunya melalui optimalisasi transaksi swap yang berbasis pada mata uang yuan offshore.

"Tidak hanya itu, BI juga memperluas operasi moneter valas, termasuk melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan offshore, sebagai upaya untuk memperkuat stabilitas mata uang rupiah sekaligus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam bertransaksi," tambah Ibrahim, Analis mata uang dan komoditas.

Pemerintah Indonesia memastikan kondisi fiskal tetap terjaga meskipun harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak di atas 100 dollar AS per barrel. Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 423 triliun disiapkan sebagai bantalan terakhir guna menjaga defisit APBN 2026 tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto.

Artikel terkait

Rekomendasi