Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan sore ini. Mata uang Garuda berhasil menguat di tengah pelemahan indeks dolar AS yang dipicu oleh membaiknya sentimen dari kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (7/5/2026), seperti dikutip dari Suara, rupiah di pasar spot berakhir pada level Rp 17.333 per dolar AS. Angka ini menunjukkan kenaikan 54 poin atau menguat sekitar 0,33 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan Selasa yang berada di level Rp 17.387.
Tren penguatan ini juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Kurs rupiah tercatat berada di posisi Rp 17.362 per dolar AS, mengalami penguatan tipis dibandingkan posisi sebelumnya.
Laju positif rupiah terjadi serentak dengan mayoritas mata uang di Asia yang juga berada di zona hijau. Peso Filipina memimpin penguatan dengan lonjakan 1,53 persen, diikuti ringgit Malaysia yang naik 0,43 persen, serta rupee India sebesar 0,26 persen.
Mata uang lainnya seperti dolar Taiwan menguat 0,24 persen dan baht Thailand naik 0,22 persen. Selain itu, dolar Singapura, yuan China, yen Jepang, dolar Hong Kong, hingga won Korea juga mencatatkan penguatan dengan besaran yang bervariasi.
Kondisi pasar global turut dipengaruhi oleh pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang melandai ke posisi 97,87. Angka tersebut mengalami penurunan dari posisi hari sebelumnya yang sempat menyentuh level 98,02.
Analisis dari Lukman Leong, narasumber dari Doo Financial Futures, menyebutkan bahwa faktor geopolitik menjadi penggerak utama penguatan rupiah. Muncul harapan kuat mengenai kesepakatan damai di Timur Tengah yang memberikan angin segar bagi pasar.
"Rupiah menguat terhadap dolar AS di tengah meningkatnya harapan bahwa dalam beberapa jam ke depan, Iran akan menyetujui kesepakatan damai dengan AS dan Selat Hormuz akan kembali dibuka," ujar Lukman.
Lukman menilai realisasi kesepakatan tersebut sangat krusial karena dapat meredakan ketegangan global secara signifikan. Hal ini dinilai akan memberikan ruang lebih luas bagi mata uang domestik untuk melanjutkan tren positifnya.
"Apabila hal ini terjadi, rupiah berpotensi kembali terus menguat ke depannya," kata Lukman.
| Mata Uang | Persentase Penguatan |
|---|---|
| Peso Filipina | 1,53% |
| Ringgit Malaysia | 0,43% |
| Rupiah Indonesia | 0,33% |
| Rupee India | 0,26% |
| Dolar Taiwan | 0,24% |
| Baht Thailand | 0,22% |
| Dolar Singapura | 0,20% |
| Yuan China | 0,16% |
| Yen Jepang | 0,07% |
| Dolar Hong Kong | 0,05% |
| Won Korea | 0,003% |