Rupiah Melemah ke Rp 17.526 Picu Lonjakan Transaksi Money Changer

Rupiah Melemah ke Rp 17.526 Picu Lonjakan Transaksi Money Changer
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp 17.526 Picu Lonjakan Transaksi Money Changer.

Aktivitas transaksi di sejumlah tempat penukaran mata uang asing atau money changer di Jakarta meningkat tajam setelah nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level Rp 17.526 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (14/5/2026) malam.

Dilansir dari Investor Daily, data Investing menunjukkan mata uang Garuda mengalami penurunan sebesar 80 poin atau setara 0,45 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Kondisi ini mendorong warga mendatangi money changer untuk berbagai keperluan, mulai dari investasi hingga persiapan perjalanan ke luar negeri.

Peningkatan volume transaksi terpantau salah satunya di VIP Money Changer Menteng, Jakarta Pusat, di mana nasabah terlihat silih berganti melakukan jual beli valuta asing sejak Rabu (13/5/2026). Salah seorang nasabah yang baru kembali dari penugasan kerja di luar negeri, Fonda, memilih menukarkan simpanan dolarnya karena momentum kurs yang menguntungkan.

"Kebetulan saya baru pulang dari Florida, San Francisco, lalu Taiwan, dan dari Taiwan langsung terbang ke Jakarta. Saya mau pulang ke Lampung," ujar Fonda.

Pria yang bekerja sebagai pelaut ini menjelaskan bahwa dana hasil penukaran tersebut akan dialokasikan untuk membiayai kebutuhan keluarga serta instrumen investasi lainnya.

"Kebetulan satu untuk keluarga, kemudian investasi, ya banyak sih kebutuhannya," imbuh Fonda.

Keputusan untuk menukarkan uang secara manual diambilnya karena adanya perbedaan margin nilai tukar yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan sistem konversi otomatis dari fasilitas transfer gaji perusahaan.

"Kalau tukar misalnya US$ 1.000 saja, selisih Rp 300 per dolar sudah lumayan besar," jelas Fonda.

Ia pun mengaku telah memantau pergerakan pasar dan sengaja menahan aset dolar miliknya hingga nilai tukar rupiah berada pada titik yang dinilai memberikan keuntungan maksimal baginya.

"Sekarang rupiah bergerak naik turun. Beda dengan saat pandemi, kalau turun terus kemudian naik, enggak naik turun. Ya mungkin karena sekarang akibat situasi perang saat ini di Timur Tengah," kata Fonda.

Meskipun mendapatkan selisih keuntungan dari kenaikan dolar AS, Fonda menyatakan harapannya agar kondisi moneter nasional tetap terjaga demi kesejahteraan masyarakat luas.

"Mungkin senang bagi sebagian orang kalau dolarnya naik, tapi itu ibarat satu banding sepuluh. Satu orang senang, sementara 10 orang sedih. Jadi lebih baik stabil saja, enggak tinggi, enggak turun banget," ujarnya.

Di lokasi yang sama, nasabah lain bernama Stefani justru melakukan transaksi sebaliknya dengan membeli dolar AS untuk kebutuhan belanja di luar negeri menjelang masa libur panjang.

"Iya, tukar dari rupiah ke dolar, tujuannya karena memang mau travelling saja. Liburan ke salah satu negara karena kebetulan juga bertepatan dengan long weekend," ungkap Stefani.

Stefani berpendapat bahwa dalam situasi fluktuatif seperti sekarang, menyimpan dana dalam bentuk mata uang asing dianggap sebagai langkah untuk memitigasi risiko penurunan nilai aset akibat inflasi.

"Mungkin orang berpikir dibandingkan simpan uang rupiah yang nilainya kemungkinan bakal melemah, lebih baik uangnya ditukar ke dolar atau mata uang asing yang lebih stabil," jelas Stefani.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya mendatangi money changer murni didasari oleh rencana perjalanan yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

"Enggak, tergantung kalau mau liburan. Jadi sesuai kebutuhan saja," tuturnya.

Artikel terkait

Rekomendasi