Rupiah Tembus Rp 17.529 Picu Potensi Gelombang PHK Massal

Rupiah Tembus Rp 17.529 Picu Potensi Gelombang PHK Massal
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Rp 17.529 Picu Potensi Gelombang PHK Massal.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang menembus level Rp 17.500 pada Selasa (12/5/2026) mengancam ekosistem tenaga kerja nasional melalui potensi gelombang pemutusan hubungan kerja. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan biaya impor bahan baku strategis yang menekan margin operasional perusahaan.

Data pasar spot menunjukkan rupiah ditutup merosot 115 poin atau setara 0,66 persen ke posisi Rp 17.529 per dollar AS sebagaimana dilansir dari Money. Tekanan ini diperkirakan terus berlanjut hingga mendekati angka psikologis Rp 18.000 per dollar AS dalam waktu dekat.

Kenaikan kurs ini berdampak langsung pada biaya impor komoditas penting seperti gandum, kedelai, pupuk, hingga komponen elektronik. Situasi tersebut memaksa pelaku usaha melakukan efisiensi ketat guna menjaga kelangsungan operasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan depresiasi mata uang domestik akan meningkatkan beban produksi secara signifikan. Hal ini membuat korporasi cenderung membatasi ekspansi dan lebih memilih langkah penghematan anggaran.

"Pada saat impor barang begitu besar, pasti ada pengetatan anggaran. Anggaran pasti naik, kemudian perusahaan akan efisiensi, perusahaan tidak akan melakukan ekspansi," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Ibrahim menjelaskan bahwa perusahaan akan berusaha bertahan pada kapasitas yang ada, namun pengurangan staf menjadi opsi pahit demi menjaga eksistensi bisnis. Sektor manufaktur dan infrastruktur disebut sebagai bidang yang paling rentan terhadap guncangan ini.

"Perusahaan akan tetap berjalan seperti koridornya. Dan kemungkinan besar untuk mempertahankan perusahaan ini eksis, perusahaan kemungkinan akan melakukan PHK," paparnya Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Berdasarkan catatan Ibrahim, angka pekerja yang kehilangan pekerjaan sepanjang Januari hingga April 2026 telah mencapai rentang 45.000 sampai 75.000 orang. Jumlah korban PHK diprediksi akan terus bertambah dalam tiga bulan mendatang jika tekanan kurs tidak mereda.

"Harus diingat bahwa dari Januari sampai April itu sudah sekitar 45.000 sampai 75.000 karyawan yang di-PHK. Kemungkinan besar dalam tiga bulan ke depan banyak sekali perusahaan yang PHK karyawan," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

"Manufaktur, infrastruktur, kemudian industri manufaktur. Itu semua terkena dampak, akhirnya semua terdampak," lanjut Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Selain faktor nilai tukar, kenaikan harga minyak mentah dunia juga memperberat beban fiskal Indonesia. Harga Brent melonjak 2,88 persen ke 104,21 dollar AS per barrel setelah tensi geopolitik antara AS dan Iran kembali memanas di kawasan Selat Hormuz.

Artikel terkait

Rekomendasi