Rupiah Melemah ke Rp 17.394 Meski Neraca Perdagangan Indonesia Surplus

Rupiah Melemah ke Rp 17.394 Meski Neraca Perdagangan Indonesia Surplus
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp 17.394 Meski Neraca Perdagangan Indonesia Surplus.

Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami penurunan pada penutupan perdagangan Senin, 4 Mei 2026. Mata uang Indonesia ini tercatat melemah 0,33 persen sehingga berada di posisi Rp 17.394 per dollar Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari Money, pelemahan posisi rupiah ini terjadi meskipun Indonesia sebenarnya masih membukukan surplus pada neraca perdagangan. Secara akumulatif sejak Januari hingga Maret 2026, surplus tercatat mencapai 5,55 miliar dollar AS.

Pencapaian tersebut memperpanjang tren positif neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka yang signifikan untuk periode Maret 2026.

BPS melaporkan bahwa surplus perdagangan pada Maret 2026 menyentuh angka 3,32 miliar dollar AS. Jumlah ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan perolehan Februari 2026 yang sebesar 1,27 miliar dollar AS.

Kinerja ekspor pada periode tersebut mencapai 22,53 miliar dollar AS, meskipun secara tahunan terdapat penurunan sebesar 3,10 persen. Di sisi lain, nilai impor Indonesia tercatat sebesar 19,21 miliar dollar AS atau tumbuh 1,51 persen.

Surplus utama berasal dari sektor nonmigas yang menyumbang 5,21 miliar dollar AS. Komoditas unggulan yang menjadi penopang antara lain bahan bakar mineral, besi dan baja, serta minyak dan lemak hewan nabati.

Namun, sektor migas masih mengalami defisit sebesar 1,89 miliar dollar AS. Kondisi defisit ini dipicu oleh aktivitas perdagangan minyak mentah, hasil minyak, serta gas.

Secara keseluruhan untuk triwulan pertama 2026, sektor nonmigas memberikan kontribusi surplus sebesar 10,63 miliar dollar AS. Hal ini menutupi defisit sektor migas yang berada di angka 5,08 miliar dollar AS.

Meskipun perdagangan luar negeri surplus, tekanan ekonomi justru terlihat pada sektor manufaktur domestik. Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia yang dirilis S&P Global menunjukkan penurunan ke level 49,1 pada April 2026.

Angka di bawah 50 tersebut menandakan sektor manufaktur masuk ke zona kontraksi. Ini merupakan level terendah sejak Juli 2025 sekaligus mengakhiri fase ekspansi yang sempat bertahan selama delapan bulan terakhir.

Kondisi ini disebabkan oleh volume produksi yang terus melemah dalam dua bulan belakangan. Laju penurunan produksi terpantau semakin cepat dan menjadi yang paling dalam sejak Mei tahun lalu.

Dampak Tensi Geopolitik Global

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah turut dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik global. Situasi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku pasar uang.

Presiden AS Donald Trump menyatakan melalui akun Truth Social miliknya bahwa pihaknya akan berupaya membebaskan kapal-kapal di Selat Hormuz. Langkah tersebut diklaim bertujuan untuk menjaga kelancaran perdagangan dunia.

Terkait isu nuklir, Trump menekankan bahwa kesepakatan dengan Teheran merupakan prioritas utama. Di sisi lain, pihak Iran mengusulkan penundaan pembahasan isu nuklir hingga konflik selesai dengan syarat blokade pelayaran di Teluk dicabut.

"Trump telah menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas, sementara Iran telah mengusulkan untuk mengesampingkan masalah nuklir hingga setelah perang berakhir dan kedua pihak sepakat untuk mencabut blokade yang saling bertentangan terhadap pelayaran di Teluk," ujar Ibrahim kepada wartawan, Senin sore ini.

Ketegangan juga memuncak di Eropa Timur setelah Ukraina meluncurkan serangan drone ke wilayah Rusia. Serangan tersebut menyasar Pelabuhan Primorsk di Laut Baltik dan menyebabkan kebakaran pada infrastruktur energi.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengonfirmasi bahwa serangan itu merusak terminal minyak di pelabuhan tersebut secara signifikan. Laporan juga menyebutkan kerusakan pada kapal tanker, kapal rudal kelas Karakurt, serta kapal patroli Rusia.

Artikel terkait

Rekomendasi