Nilai tukar rupiah terpuruk ke level terendah sepanjang sejarah akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya tekanan di pasar keuangan global pada perdagangan Senin (18/5/2026).
Berdasarkan data perdagangan pukul 02.20 GMT yang dilansir dari Internasional, mata uang Indonesia kini berada di posisi Rp 17.650 per dolar AS atau melemah sebesar 1,08 persen dari hari sebelumnya yang berada pada angka Rp 17.460 per dolar AS.
Kemerosotan tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan penurunan paling tajam di kawasan Asia pada hari tersebut. Lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi global, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran yang membuat investor mengalihkan aset mereka ke dolar AS.
Tekanan pasar global ini turut mengoreksi sejumlah mata uang Asia lainnya terhadap dolar AS. Won Korea Selatan tercatat melemah 0,52 persen ke level 1.505,4, dolar Taiwan turun 0,22 persen, peso Filipina terkoreksi 0,25 persen, yen Jepang melemah tipis 0,09 persen ke level 158,9, ringgit Malaysia turun 0,70 persen, dan yuan China melemah 0,05 persen.
Secara year to date sejak awal tahun 2026, rupiah telah mengalami penurunan nilai sekitar 5,55 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, rupee India mencatat pelemahan terdalam di kawasan sebesar 6,35 persen, diikuti peso Filipina sebesar 4,68 persen, dan won Korea Selatan sebesar 4,38 persen.
Kendati demikian, beberapa mata uang Asia terpantau masih menguat terhadap dolar AS sepanjang tahun ini, seperti yuan China yang naik 2,50 persen dan ringgit Malaysia yang menguat 2,04 persen. Saat ini pelaku pasar tengah mengantisipasi arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, khususnya Federal Reserve, di tengah risiko inflasi dari kenaikan harga energi global.