Rupiah Melemah ke Rp17.430 Akibat Ketegangan Global dan Utang Negara

Rupiah Melemah ke Rp17.430 Akibat Ketegangan Global dan Utang Negara
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp17.430 Akibat Ketegangan Global dan Utang Negara.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah pada rentang Rp17.380 hingga Rp17.430 pada perdagangan Senin (11/5/2026). Dilansir dari Market, tren negatif ini melanjutkan penutupan hari Jumat sebelumnya yang merosot ke level Rp17.382 per dolar AS.

Kenaikan indeks dolar Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menekan posisi mata uang Garuda di pasar spot. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama ketidakpastian pasar global saat ini.

Kekhawatiran investor meningkat terhadap stabilitas jalur distribusi energi di Selat Hormuz yang merupakan lintasan vital perdagangan minyak dunia. Meskipun sempat ada harapan mengenai pembukaan jalur tersebut, situasi justru kembali tegang setelah kedua negara saling melontarkan tuduhan pelanggaran gencatan senjata.

"Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya," kata Ibrahim Assuaibi.

Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter bank sentral AS juga memengaruhi sentimen pasar. Adanya perbedaan pandangan di internal pejabat Federal Reserve mengenai arah suku bunga acuan turut menambah beban bagi pergerakan nilai tukar mata uang negara berkembang.

Dari sektor domestik, laporan mengenai posisi utang pemerintah Indonesia menjadi sorotan para pelaku pasar. Berdasarkan data per 31 Maret 2026, akumulasi utang pemerintah telah menembus angka Rp9.920,42 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 3 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2025.

Pemerintah mencatat rasio utang tersebut setara dengan 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meskipun angka ini diklaim masih di bawah batas aman internasional sebesar 60 persen, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai semakin nyata.

Kondisi fiskal juga dibayangi oleh realisasi defisit anggaran pada kuartal I/2026 yang mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Pada saat yang sama, pembiayaan utang telah menyentuh angka Rp258,7 triliun sehingga meningkatkan sensitivitas pasar terhadap kemampuan stabilitas fiskal negara.

Artikel terkait

Rekomendasi