Nilai tukar rupiah melemah sebesar 70 poin ke level Rp17.870 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5), akibat kombinasi tekanan eksternal dan internal di pasar domestik, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang domestik masih terus tertekan, bahkan berpotensi masuk ke level Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat seiring meningkatnya ketidakpastian global.
"Ada kemungkinan pembukaan pasar besok di hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp18.000," kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Pasar Uang dan Komoditas.
Ibrahim menyoroti lonjakan ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan AS dan Iran, yang berisiko memperburuk situasi keamanan jalur perdagangan energi dunia di Selat Hormuz.
"Nah di sisi lain pun Amerika sedang mempersiapkan perang skala besar dengan Iran menurut data intelijen dari Rusia," ujar Ibrahim Assuaibi.
Ketegangan geopolitik tersebut, bersama dengan konflik Rusia-Ukraina di Eropa Timur, memicu kekhawatiran pelaku pasar dan mendorong kenaikan harga minyak global di atas US$92 per barel, dengan jenis West Texas Intermediate (WTI) menyentuh US$96 per barel.
"Bukan di Amerika saja tapi secara global ini pun juga akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan," tutur Ibrahim Assuaibi.
Dari sisi moneter, sentimen penguatan dolar AS kian kokoh setelah Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari menyatakan pada Rabu (27/5) bahwa inflasi tetap menjadi fokus utama bank sentral ketimbang pelemahan pasar tenaga kerja.
Kondisi eksternal tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sementara faktor internal seperti tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, dividen, utang jatuh tempo, serta ketidakoptimalan program Makan Bergizi Gratis dan koperasi Merah Putih memicu modal asing keluar.
"Dan membuat arus modal asing keluar cukup deras pada saat libur panjang ini," ucap Ibrahim Assuaibi.
Bank Indonesia terus melakukan intervensi guna menstabilkan kurs rupiah, meskipun ruang penguatannya dinilai menjadi sangat terbatas akibat akumulasi tekanan eksternal dan internal tersebut.
"Wajar kalau seandainya rupiah mengalami pelemahan. Nah kita melihat bahwa dalam perdagangan di hari ini kemungkinan besar rupiah akan melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS," tandas Ibrahim Assuaibi.