Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.414 pada perdagangan Senin (11/5/2026). Penurunan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS yang dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Teluk menyusul sikap keras pemerintah AS terhadap Iran.
Berdasarkan data RTI Infokom sebagaimana dilansir dari Market, mata uang Garuda terkoreksi sebesar 32 poin dari posisi sebelumnya. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menunjukkan apresiasi sebesar 0,09 persen yang membawa greenback naik ke level 97,98.
Kondisi ini tidak hanya dialami rupiah, karena mayoritas mata uang di Asia juga terpantau layu di hadapan dolar AS. Yen Jepang tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,28 persen, disusul won Korea yang melemah 0,37 persen, serta baht Thailand dan dolar Hong Kong yang masing-masing terkoreksi 0,81 persen dan 0,01 persen.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan dolar AS didorong oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menolak usulan perdamaian dari Iran. Trump menilai respons dari Teheran tidak dapat diterima oleh pihaknya.
ÔÇ£Komentar tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak konflik dimulai,ÔÇØ ujar Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Situasi tersebut memupus harapan pelaku pasar akan terjadinya de-eskalasi konflik dalam waktu dekat. Ibrahim menyebutkan bahwa investor kini tengah mengalihkan perhatian pada rencana kunjungan Trump ke Beijing untuk menemui Presiden Xi Jinping guna membahas isu perdagangan dan konflik Iran.
ÔÇ£Terjaganya keyakinan konsumen didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini [IKE] yang naik ke level 116,5, mencerminkan optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja dan daya beli,ÔÇØ pungkas Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Pernyataan tersebut merujuk pada data Survei Konsumen April 2026 yang dirilis Bank Indonesia, di mana Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik tipis menjadi 123,0. Meski terdapat sentimen positif dari domestik, pengaruh faktor eksternal terkait kebijakan suku bunga Federal Reserve dan ketidakpastian global masih mendominasi tekanan terhadap rupiah.
Untuk pergerakan pasar selanjutnya pada Selasa (12/5/2026), nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif. Mata uang Indonesia diperkirakan tetap berada dalam tren melemah pada kisaran rentang Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS.