Nilai tukar rupiah mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level Rp 17.680 per dollar AS pada Senin (18/5/2026) pukul 12.26 WIB, yang dipicu oleh kombinasi sentimen negatif global dan faktor domestik.
Kondisi mata uang Garuda yang mencapai posisi terendahnya tersebut dilansir dari Money berdasarkan data Bloomberg pada pertengahan hari. Penguatan dollar AS terjadi secara signifikan di tengah aksi jual investor pada berbagai instrumen investasi seperti obligasi, saham, kripto, hingga mata uang negara berkembang.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa kemerosotan nilai tukar ini pada sesi pagi hingga siang hari didominasi oleh faktor eksternal, terutama penguatan kembali sentimen risk off global sejak Jumat lalu. Kekecewaan pemodal muncul setelah pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump dianggap belum memberikan jalan keluar untuk konflik AS-Iran.
"Hal ini juga membuat harga minyak mentah dunia kembali naik. Range Rp 17.550 sampai Rp 17.650," ujar Lukman Leong.
Selain tekanan eksternal, pergerakan negatif rupiah juga dipengaruhi oleh faktor dalam negeri. Lukman menambahkan bahwa pernyataan resmi dari Presiden Prabowo Subianto mengenai mata uang nasional turut memicu sentimen kurang menguntungkan bagi pasar keuangan.
"Pidato tersebut umumnya direspons negatif investor," kata Lukman Leong.
Secara terpisah, analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memaparkan bahwa pidato Presiden Prabowo pada Sabtu (16/5/2026) menumbuhkan persepsi negatif di kalangan pelaku pasar. Dalam pidato tersebut, presiden menyatakan bahwa pelemahan rupiah tidak menjadi persoalan karena masyarakat pedesaan tidak bertransaksi menggunakan mata uang dollar AS.
"Rupanya pernyataan dari Presiden Prabowo ini juga berakibat fatal terhadap pelemahan mata uang rupiah," ucap Ibrahim Assuaibi.
Pernyataan tersebut dinilai membuat para pemodal menyimpulkan bahwa pemerintah belum menyiapkan strategi taktis dan jelas guna meredam tekanan terhadap nilai tukar. Ibrahim menilai komunikasi publik dari jajaran pemerintah sangat krusial demi menjaga stabilitas kepercayaan pasar, di mana fokus seharusnya diarahkan pada langkah konkret seperti pembatasan impor energi, program biodiesel B50, serta mitigasi risiko global.
"Apa yang dikatakan oleh Prabowo ini mungkin kesalahan dari pembantu presidennya yang di sini adalah Sekretaris Kabinet mungkin tidak memberikan satu informasi yang positif tentang masyarakat yang ada di desa. Karena masyarakat yang ada di desa sekarang itu lebih pintar dibandingkan dengan masyarakat yang ada di kota," ungkap Ibrahim Assuaibi.
Faktor lain dari dalam negeri yang diidentifikasi memperburuk situasi meliputi tingginya volume impor minyak Indonesia yang menyentuh angka 1,5 juta barrel per hari. Di saat yang sama, perpindahan dana simpanan masyarakat dari mata uang rupiah ke valuta asing turut memperberat tekanan terhadap kurs domestik.