Rupiah Melemah ke Rp 17.420 per Dollar Akibat Gejolak Global

Rupiah Melemah ke Rp 17.420 per Dollar Akibat Gejolak Global
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp 17.420 per Dollar Akibat Gejolak Global.

Nilai tukar rupiah tercatat melemah ke level Rp 17.420 per dollar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Selasa (5/5/2026) di Jakarta. Penurunan ini terjadi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi dan ketidakpastian pasar keuangan global, sebagaimana dilansir dari Money.

Bank Indonesia mencatat posisi rupiah saat ini masih lebih terkendali dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya. Sejak konflik dimulai, rupiah mengalami pelemahan sebesar 3,65 persen, angka yang relatif lebih rendah daripada depresiasi peso Filipina sebesar 6,58 persen dan baht Thailand sebesar 5,04 persen.

Data Pelemahan Mata Ung Emerging Market
Mata UangPersentase Pelemahan (%)
Peso Filipina6,58
Baht Thailand5,04
Rupee India4,32
Peso Chile4,24
Rupiah Indonesia3,65
Won Korea2,29

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menegaskan bahwa pergerakan mata uang domestik tetap terjaga. Kondisi pasar saat ini dinilai masih mencerminkan dinamika regional yang serupa.

ÔÇ£Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya,ÔÇØ ujar Erwin di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Otoritas moneter berkomitmen terus menjaga stabilitas melalui intervensi di berbagai instrumen pasar. Langkah tersebut mencakup intervensi pada transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

ÔÇ£Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,ÔÇØ kata Erwin.

Tekanan terhadap rupiah juga beriringan dengan lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent terpantau naik 6,27 dollar AS menjadi 114,44 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate berada pada level 106,42 dollar AS per barrel.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti dampak kenaikan harga komoditas impor terhadap konsumsi domestik. Ia menyebutkan bahwa kenaikan biaya produksi mulai meluas ke berbagai sektor manufaktur, termasuk bahan plastik.

ÔÇ£Kita lihat bahwa hari ini harga-harga semua mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kita melihat bahwa barang-barang impor, elektronik, pupuk, kemudian komoditas, kacang kedelai, kemudian gandum, ya ini pun juga mengalami kenaikan,ÔÇØ ujar Ibrahim.

Situasi ini diprediksi akan menekan daya beli masyarakat karena kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan barang impor. Pasar kini menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 untuk melihat ketahanan fiskal nasional.

ÔÇ£Ini harus hati-hati, apakah sesuai dengan target pemerintah di atas 5,5 persen atau di bawah 5,5 persen,ÔÇØ ujar Ibrahim.

Guna menjaga stabilitas fiskal di tengah keterbatasan ruang kebijakan, Ibrahim menyarankan adanya peninjauan ulang terhadap beberapa program pemerintah. Hal ini dianggap penting untuk menjaga ketersediaan dana cadangan devisa.

ÔÇ£Nah ini yang harus diperhatikan sehingga pemerintah saat ini tugas pemerintah untuk mendapatkan ÔÇ£uang segarÔÇØ, selain memindahkan dana-dana, menghentikan sementara untuk MBG, kemudian Koperasi Merah Putih juga dihentikan sementara,ÔÇØ tukas Ibrahim.

Artikel terkait

Rekomendasi