Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot hingga mencapai level terendah sepanjang sejarah di posisi Rp17.645 per dolar AS pada Senin (18/5/2026) pukul 10.50 WIB. Pelemahan mata uang Garuda sebesar 1,17 persen ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia serta respons negatif pelaku pasar terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana dilansir dari Suara berdasarkan data Reuters.
Kemerosotan tajam tersebut mengakibatkan rupiah tercatat sudah terkoreksi sebesar 5,99 persen sejak awal tahun secara year-to-date. Jika dihitung sejak awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2024 yang saat itu berada di kisaran Rp15.400-an, mata uang Indonesia kini telah menyusut hingga 12 persen.
Kondisi eksternal berupa ketegangan geopolitik di Timur Tengah memaksa para investor global mengalihkan dana mereka ke aset aman seperti dolar AS. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia memperberat posisi Indonesia sebagai negara importir minyak net yang membutuhkan 1,5 juta barel per hari, sehingga memerlukan pasokan dolar AS dalam jumlah yang lebih besar.
"Dengan kenaikan harga minyak mentah yang cukup signifikan dan indeks dolar yang menguat, kebutuhan dolar dari Indonesia menjadi sangat tinggi," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Komoditas dan Mata Uang.
Sentimen negatif pasar internal juga menguat setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan komentar santai pada Sabtu (16/5) dengan menilai pelemahan rupiah tidak berdampak langsung pada masyarakat desa.
"Pernyataan Presiden Prabowo ini dijadikan alasan oleh para investor di pasar untuk melakukan aksi beli dolar, sehingga rupiah terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan," tutur Ibrahim.
Pemerintah saat ini didesak untuk segera memaparkan strategi konkret seperti manajemen krisis energi serta percepatan program biodiesel B50 guna menekan laju impor minyak nasional.