Rupiah Melemah ke Level Rp 17.597 Per Dolar AS dalam Sepekan

Rupiah Melemah ke Level Rp 17.597 Per Dolar AS dalam Sepekan
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Level Rp 17.597 Per Dolar AS dalam Sepekan.

Mata uang rupiah terus mengalami tekanan besar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh kisaran level terlemah sepanjang sejarah pada penutupan perdagangan Jumat (15/5). Kondisi ini dipicu oleh akumulasi sentimen global dan domestik yang memicu pelemahan nilai tukar sepanjang pekan ini.

Dilansir dari Investasi, data Bloomberg menunjukkan pergerakan rupiah di pasar spot yang sempat berada di level Rp 17.414 per dolar AS pada Senin (11/5). Tekanan tersebut terus berlanjut hingga mata uang Garuda ditutup pada posisi Rp 17.597 per dolar AS di akhir pekan.

Data Pergerakan Rupiah Mei 2026
Hari/TanggalKurs Spot (Rp/USD)Kurs Jisdor BI (Rp/USD)
Senin, 11 Mei17.41417.415
Selasa, 12 Mei17.52817.514
Rabu, 13 Mei17.47617.496
Kamis, 14 Mei17.529Data Tidak Disebutkan
Jumat, 15 Mei17.597Data Tidak Disebutkan

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menjelaskan bahwa kenaikan inflasi konsumen Amerika Serikat yang mencapai 3,8% secara tahunan menjadi faktor utama penguatan dolar AS. Selain itu, tingginya harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah turut membebani mata uang negara importir energi seperti Indonesia.

"Dari sisi global, tekanan terbesar datang dari kenaikan inflasi Amerika Serikat, harga minyak yang masih tinggi akibat konflik Timur Tengah, serta imbal hasil obligasi Amerika yang bertahan tinggi," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Josua juga menyoroti sentimen peninjauan indeks MSCI yang menyebabkan keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks standar. Hal ini memicu aksi jual oleh investor asing di pasar modal yang kemudian mengonversi dana mereka ke dalam mata uang dolar AS.

"MSCI bukan penyebab tunggal pelemahan rupiah, tetapi menjadi pemicu domestik yang memperburuk tekanan ketika pasar global sedang tidak ramah," kata Josua Pardede.

Minat investor terhadap pasar obligasi domestik juga tercatat menurun, terlihat dari lelang Surat Berharga Negara (SBN) dengan rasio penawaran hanya 1,43 kali dari target. Rendahnya permintaan ini mencerminkan peningkatan persepsi risiko terhadap aset-aset keuangan di Indonesia.

"Jika pasar obligasi melemah, investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi dan tekanan tersebut dapat memperbesar persepsi risiko Indonesia," ujar Josua Pardede.

Meskipun berada dalam tren pelemahan, terdapat harapan stabilisasi melalui rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Upaya pemerintah melalui wacana aktivasi Bond Stabilization Fund diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor di pasar obligasi nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi