Rupiah Tembus Rp 17.500 Per Dolar AS Usai Optimisme Menkeu

Rupiah Tembus Rp 17.500 Per Dolar AS Usai Optimisme Menkeu
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Rp 17.500 Per Dolar AS Usai Optimisme Menkeu.

Nilai tukar rupiah melemah tajam hingga menembus level Rp 17.500 per dolar AS pada Mei 2026 setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme terhadap penguatan mata uang garuda. Pelemahan ini terjadi di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menyentuh level terendah dalam setahun terakhir.

Dilansir dari Money, nilai tukar rupiah terpantau merosot hanya satu hari setelah Menkeu Purbaya memberikan pernyataan mengenai target penguatan nilai tukar. Tekanan pasar modal juga terlihat pada penutupan sesi perdagangan 13 Mei 2026, di mana IHSG menurun 1,98 persen ke level 6.723,32.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya sempat memaparkan pandangannya mengenai peluang penguatan rupiah dalam agenda Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta pada Selasa (3/2/2026). Ia menilai target angka tertentu bagi rupiah merupakan hal yang mungkin dicapai.

"Jika melihat kondisi regional, menuju Rp 15.000 per dollar AS, itu sebenarnya tidak terlalu sulit. Saya tidak berbicara atas nama bank sentral, tetapi jika saya berada di posisi mereka, level itu cukup realistis," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Pernyataan optimisme tersebut berlanjut setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan. Purbaya bahkan memproyeksikan potensi penguatan rupiah yang jauh lebih signifikan dalam jangka panjang.

Tercatat sebanyak 18 emiten Indonesia dikeluarkan dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memicu sentimen negatif bagi investor asing. Sebanyak lima emiten keluar dari MSCI Global Standard Indexes, sementara 13 lainnya dihapus dari MSCI Small Cap Indexes.

Berikut adalah rincian emiten yang keluar dari kategori indeks MSCI berdasarkan data dari Money:

Daftar Emiten yang Dihapus dari Indeks MSCI
Kategori IndeksNama Emiten
MSCI Global Standard IndexesPT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
MSCI Global Standard IndexesPT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
MSCI Global Standard IndexesPT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
MSCI Global Standard IndexesPT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
MSCI Global Standard IndexesPT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
MSCI Small Cap IndexesPT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
MSCI Small Cap IndexesPT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
MSCI Small Cap IndexesPT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK)
MSCI Small Cap IndexesPT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
MSCI Small Cap IndexesPT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)
MSCI Small Cap IndexesPT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO)
MSCI Small Cap IndexesPT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)
MSCI Small Cap IndexesPT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)
MSCI Small Cap IndexesPT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
MSCI Small Cap IndexesPT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC)
MSCI Small Cap IndexesPT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
MSCI Small Cap IndexesPT Triputra Agro Persada Tbk (TPAG)
MSCI Small Cap IndexesPT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN)

Selain penghapusan tersebut, satu emiten yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mengalami penurunan kategori dari global standard indexes ke small cap indexes. Kondisi pasar modal Indonesia berbanding terbalik dengan mayoritas indeks regional Asia yang justru menguat pada 13 Mei 2026.

Data dari Stockbit dan Yahoo Finance menunjukkan Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,84 persen, SSE Composite China menguat 0,67 persen, dan Straits Times Singapura meningkat 1,17 persen. Pergerakan modal asing keluar dari pasar domestik ini mengindikasikan adanya kekhawatiran investor terhadap stabilitas nilai tukar dan kredibilitas kebijakan ekonomi nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi